Lalu, sekitar 3,11% akan digunakan untuk pembangunan fasilitas pengelolaan limbah perseroan. Serta, sekitar 1,53% akan digunakan sebagai untuk pengembangan software penunjang operasional perseroan. Pengembangan software tersebut akan dilakukan dengan membeli software dengan pihak penyedia software dan akan dilakukan dengan sistem beli putus dengan harga yang berlaku pada saat pembelian.
Selanjutnya, sekitar 50,55% akan digunakan sebagai modal kerja atau operational expenditure (opex). Dengan rincian, sekitar 9,61% akan digunakan untuk penambahan daya listrik di area pabrik perseroan. Sisanya sekitar 40,49% akan digunakan untuk modal kerja perseroan, namun tidak terbatas pada biaya pemasaran dan pembelian persediaan bahan baku dan bahan penunjang guna mendukung kegiatan usaha perseroan.
“Sehubungan dengan modal kerja untuk biaya pemasaran dan pembelian persediaan bahan baku dan bahan penunjang, perseroan telah memiliki perjanjian jual beli untuk bahan baku dengan pihak terafiliasinya,” lanjut prospektus.
Maja Agung Latexindo dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 29 November 2023 mendatang dengan kode SURI. Sementara, tanggal efektif diperkirakan akan didapat pada 22 November 2023.
Kemudian, tanggal penjatahan dan distribusi secara elektronik akan berlangsung pada 27 dan 28 November 2023. Dalam IPO ini, perseroan menunjuk PT Shinhan Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)