JAKARTA - Rumus BEP (Break Even Point) lengkap dengan cara menghitung serta tujuan dan fungsinya. Hal ini menarik untuk diketahui, apalagi bagi pelaku usaha supaya tahu pengeluaran hingga kapan balik modalnya.
Break Even Point (BEP) biasa disebut titik impas. Banyak pengusaha salah arti dari apa itu BEP. BEP adalah di mana seluruh biaya tercover dari omzet sehingga profitnya nol. Profit nol ini adalah titik impas.
Lantas bagaimana rumus BEP lengkap dengan cara menghitung serta tujuan dan fungsinya?
Rumus BEP
Cara menghitung BEP tentu beragam. Misalnya ada sebuah proyek senilai total Rp1 miliar dengan lima unit rumah. Berarti per unit rumah harganya Rp200 juta.
- A. Biaya Bahan Baku = Rp600 juta.
- B. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = Rp100 juta
- C. Maka titik impas ketika omzet mencapai Rp700 juta.
- D. Bila harga jual satu rumah senilai Rp200 juta maka titik impas pada unit ke = Rp700 juta : Rp200 juta = 3,5 unit
- E. Artinya unit ke-4 sudah mengandung profit.
Titik impas juga bisa diartikan “angka aman”. Maka untuk mengamankan biaya adum (cenderung biayanya tetap meskipun tidak jualan), maka omzet dikurangi biaya bahan baku harus sama dengan biaya adum. Bila sudah bisa mengejar “angka aman” maka penjualan berikutnya adalah murni profit (setelah dikurangi biaya langsung/biaya bahan baku).
Payback Period, artinya kapan modal investasi itu bisa kembali. Kita gunakan contoh yang sama dengan di atas. Sebelumnya dalam sebuah proyek perumahan, sebaiknya yang pertama kali dibiayai adalah biaya itu sendiri, kemudian bila telah mencapai titik impas/BEP, otomatis modal investasi juga telah ditarik karena modal investasi adalah untuk membiayai Biaya di awal proyek bukan? Dan yang terakhir adalah menarik profit.
Cara Menghitung BEP
Dengan asumsi di atas, maka Payback Period perlu diterjemahkan dalam alur kas yang lebih mendetil. Tetapi untuk memudahkan Anda, kami sederhanakan saja. Masih menggunakan contoh perhitungan di atas. Asumsi omzet 1M dengan lama proyek 24 bulan (2 tahun).
- A Omzet = Rp1 miliar
- B. Biaya Bahan Baku = Rp600 juta
- C. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = Rp100 juta
- D. Laba –> (A-B-C) = Rp300 juta
- E. Asumsi arus kas masuk 24 bulan = Rp41,6 juta
- PayBack Period = biaya : arus kas = Rp700 juta : Rp41,6 juta = 16,8 bulan
Bila kita melihat contoh, maka Payback Periodnya 16,8 bulan (orang keuangan biasa membulatkan menjadi 17 bulan). Makin cepat makin baik tentunya. Berarti setelah bulan ke 17 bisa disebut bisnis berjalan tanpa modal. Karena modalnya sudah kembali bukan?