Rumus BEP Lengkap dengan Cara Menghitung serta Tujuan dan Fungsinya

Feby Novalius, Jurnalis
Kamis 14 Maret 2024 18:22 WIB
Rumus BEP Lengkap dengan Cara Menghitung serta Tujuan dan Fungsinya. (Foto: Okezone.com/Freepik)
Share :

JAKARTA - Rumus BEP (Break Even Point) lengkap dengan cara menghitung serta tujuan dan fungsinya. Hal ini menarik untuk diketahui, apalagi bagi pelaku usaha supaya tahu pengeluaran hingga kapan balik modalnya.

Break Even Point (BEP) biasa disebut titik impas. Banyak pengusaha salah arti dari apa itu BEP. BEP adalah di mana seluruh biaya tercover dari omzet sehingga profitnya nol. Profit nol ini adalah titik impas.

Lantas bagaimana rumus BEP lengkap dengan cara menghitung serta tujuan dan fungsinya?

Rumus BEP

Cara menghitung BEP tentu beragam. Misalnya ada sebuah proyek senilai total Rp1 miliar dengan lima unit rumah. Berarti per unit rumah harganya Rp200 juta.

- A. Biaya Bahan Baku = Rp600 juta.

- B. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = Rp100 juta

- C. Maka titik impas ketika omzet mencapai Rp700 juta.

- D. Bila harga jual satu rumah senilai Rp200 juta maka titik impas pada unit ke = Rp700 juta : Rp200 juta = 3,5 unit

- E. Artinya unit ke-4 sudah mengandung profit.

Titik impas juga bisa diartikan “angka aman”. Maka untuk mengamankan biaya adum (cenderung biayanya tetap meskipun tidak jualan), maka omzet dikurangi biaya bahan baku harus sama dengan biaya adum. Bila sudah bisa mengejar “angka aman” maka penjualan berikutnya adalah murni profit (setelah dikurangi biaya langsung/biaya bahan baku).

Payback Period, artinya kapan modal investasi itu bisa kembali. Kita gunakan contoh yang sama dengan di atas. Sebelumnya dalam sebuah proyek perumahan, sebaiknya yang pertama kali dibiayai adalah biaya itu sendiri, kemudian bila telah mencapai titik impas/BEP, otomatis modal investasi juga telah ditarik karena modal investasi adalah untuk membiayai Biaya di awal proyek bukan? Dan yang terakhir adalah menarik profit.

Cara Menghitung BEP

Dengan asumsi di atas, maka Payback Period perlu diterjemahkan dalam alur kas yang lebih mendetil. Tetapi untuk memudahkan Anda, kami sederhanakan saja. Masih menggunakan contoh perhitungan di atas. Asumsi omzet 1M dengan lama proyek 24 bulan (2 tahun).

- A Omzet = Rp1 miliar

- B. Biaya Bahan Baku = Rp600 juta

- C. Biaya Adum (Administrasi dan umum) = Rp100 juta

- D. Laba –> (A-B-C) = Rp300 juta

- E. Asumsi arus kas masuk 24 bulan = Rp41,6 juta

- PayBack Period = biaya : arus kas = Rp700 juta : Rp41,6 juta = 16,8 bulan

Bila kita melihat contoh, maka Payback Periodnya 16,8 bulan (orang keuangan biasa membulatkan menjadi 17 bulan). Makin cepat makin baik tentunya. Berarti setelah bulan ke 17 bisa disebut bisnis berjalan tanpa modal. Karena modalnya sudah kembali bukan?

Nah demikian indikator kelayakan bisnis yang umum digunakan. Untuk proyek atau bisnis berjangka panjang (misal jalan tol) ada beberapa indikator lainnya untuk menilai kelayakan bisnisnya. Contohnya IRR (Internal Rate Ratio), Future Value, dll. Tapi 4 indikator di atas sudah cukup mewakili indikator bahwasannya proyek layak atau tidak.

Tujuan BEP

BEP menjadi titik ketika tingkat penjualan dan biaya produksi berada dalam posisi yang sama sehingga perusahaan tidak menghasilkan atau kerugian.

BEP terjadi ketika perusahaan menggunakan biaya tetap (cost management, biaya rutin) dalam sebuah proyek, sedangkan tingkat penjualan hanya mencukupi untuk menutup biaya tetap dan variabel lain.

BEP sangat penting diketahui untuk membantu perusahaan membuat keputusan, seperti menaikkan harga produk atau mengurangi biaya operasional.

Fungsi BEP

Pada prinsipnya, BEP memberitahu Anda terkait tingkat harga, profit, dan metrik lainnya yang harus dicapai agar tidak mengalami kerugian. Sebagai contoh, jika ongkos sebuah produksi sebesar Rp 100 juta, maka perusahaan harus mencapai minimal Rp 100 juta untuk mendapatkan keuntungan.

Tujuan break even point adalah mengurangi biaya produksi, biaya operasional, dan menekan biaya tersebut seminimal mungkin tanpa mengesampingkan kualitas atau kuantitas produk.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya