“Kita worried, ya, karena dengan likuiditas nggak ada itu berarti risiko tambah tinggi, kalau risiko tambah tinggi berarti required rate yang kita minta itu lebih tinggi. Otomatis harga sahamnya tambah turun. FCA juga nggak kelihatan bid offer,” tuturnya.
Dengan kondisi seperti ini, para investor berharap agar BEI dapat terbuka dan transparan. Komunikasi dan evaluasi yang transparan menjadi suatu hal yang esensial agar dapat kembali menstabilkan pasar saham, serta memulihkan kepercayaan para investor.
“Bursa tuh harus transparan. Kalau nggak ada transparansi lagi-lagi risikonya naik. Banyak regulasi yang mereduce transparansi Bursa Efek Indonesia. Satu, kode broker dihilangin. Dua, flow asing dihilangin. Ketiga, FCA bid offer nggak kelihatan,” jelas Kartika.
Kondisi tersebut dinilai memiliki risiko yang cukup tinggi yang juga turut diikuti dengan required ratenya yang kian menaik membuat para investor semakin bergejolak dengan penerapan kebijakan terbaru ini.
(Taufik Fajar)