2 Perusahaan Raksasa Siap Investasi Rp80 Triliun di Indonesia

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Selasa 15 Oktober 2024 16:55 WIB
2 Perusahaan Raksasa Siap Investasi Rp80 Triliun di Indonesia. (Foto: okezone.com/Freepik)
Share :

JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkapkan rencana investasi jumbo dari China dan Korea Selatan di Indonesia. Nilainya mencapai Rp80 triliun untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia. Meski demikian, kedua perusahaan tersebut masih enggan untuk disebutkan.

"Kita dorong untuk EV baterainya, kita sudah ada 2 pembicaran dengan dua perusahaan dari Korea dan China. Investasi itu kurang lebih Rp80 triliun," kata Rosan dalam konferensi pers realisasi investasi kuartal III 2024, Selasa (15/10/2024).

Lebih lanjut, Rosan mengatakan targetkan kedua investasi tersebut akan segera terealisasi dalam kurun waktu kurang lebih 1-2 bulan kedepan. Adapun lokasi investasinya, Rosan juga masih enggan untuk mendetailkan lebih jauh.

"Saya yakin dalam dekat 1-2 bulan sudah rampung pembahasan investasi itu, sehingga kebijakan itu bisa kita realisasikan," tambah Rosan.

Menurutnya, investasi yang masuk ini merupakan buah dari kebijakan hilirisasi untuk komoditas nikel yang sudah dijalankan sejak tahun 2020 lalu. Hal ini membuat produsen harus datang ke Indonesia untuk mengolah bahan baku dari Indonesia sebelum bisa dijual ke luar negeri.

"Hilirisasi yang menyebabkan investasi ini meningkat di kuartal III 2024 ini. Sehingga memang kontribusi pertambangan cukup signifikan terhadap realisasi investasi kita," tambah Rosan.

Pada kesempatan itu, Rosan mengatakan investasi menjadi instrumen penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Sebab hingga saat ini sektor konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah cukup terbatas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sehingga sektor investasi serta ekspor dan impor punya potensi yang masih besar untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya.

"Kalau kita mau mencapai pertumbuhan 6-8% kuncinya adalah di investasi dan ekspor, karena 2 ruang itu yang punya peluang untuk tumbuh dengan tinggi," pungkas Rosan.

Tuntutan Investor Produsen Mobil Listrik

Rosan mengakui saat ini para produsen mobil listrik dunia menuntut setiap negara, termasuk Indonesia untuk memproduksi energi bersih.

Rosan menjelaskan, hal itu sejalan dengan rencana investasi untuk membangun pabrik-pabrik kendaraan listrik di sebuah negara. Karena dianggap penggunaan kendaraan listrik kontraproduktif dengan cita-cita pengurangan emisi jika listrik yang digunakan bersumber dari energi fosil.

"Kita juga perlu melihat dari tren kedepan yang lebih banyak mendorong pertumbuhan dari clean energy, contohnya untuk membangun industri kendaraan listrik," kata Rosan.

Lebih lanjut, Rosan mengaku saat ini telah ada pembahasan dengan salah satu produsen kendaraan listrik yang hendak masuk ke Indonesia. Akan tetapi permintaan dari calon investor tersebut, Pemerintah harus bisa memberikan energi yang ramah lingkungan.

"Kita sudah bicara dengan beberapa perusahaan yang mau berinvestasi di EV car, mereka requestnya, karena mereka ingin membuat electric car, maka energi yang mereka dapat juga dari renewable energy," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Rosan menuturkan kedepannya Pemerintah memang tengah mendorong untuk memprioritaskan investasi yang masuk untuk menggunakan energi bersih. "Kalau kita lihat itu yang akan kita dorong, bagaimana kita mengarahkan investasi yang masuk ke Indonesia itu adalah yang clean energy dan ekspor oriented," sambung Rosan.

Menurutnya, salah satu yang menjadi pertimbangan investasi dari para calon investor ke Indonesia dengan melihat struktur demografi di Indonesia yang mana didominasi oleh usia-usia produktif dengan rentan usia sekitar 30 tahunan.

"Jadi usia produktif yang membuat mereka melihat investasi di Indonesia ini menjadi hal yang sangat menarik. Kita juga mempunyai middle income class yang strong dan meningkat, kurang lebih middle income kita itu kurang lebih 56 juta orang atau 20% dari total penduduk kita, ini akan meningkat 80% pada 2045 dari total penduduk kita," pungkas Rosan.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya