Digitalisasi juga menjadi pilar penting transformasi PalmCo. Sejumlah aplikasi internal seperti Digital Farming dan Agroview dimanfaatkan untuk pengendalian biaya dan peningkatan produktivitas.
Di lapangan, digitalisasi ini ditopang mekanisasi peralatan panen dan perawatan kebun, seperti grabber dan spreader.
Di sektor pengolahan, Danantara memberi perhatian pada penerapan teknologi onsite seperti sistem Intank yang memungkinkan pemantauan stok minyak sawit mentah (CPO) secara real-time.
Sinergi antara digitalisasi dan mekanisasi tersebut tercermin pada kinerja PTPN IV Regional III sepanjang 2025.
Seperti produksi tandan buah segar (TBS) inti regional ini tumbuh 5,4 persen menjadi
1,6 juta ton dengan produktivitas mencapai 24,07 ton TBS per hektare per tahun.
Pabrik kelapa sawit mencatatkan produksi CPO sebesar 575.000 ton dengan produktivitas 5,68 ton CPO per hektare pertahun, sementara produksi minyak inti sawit (PKO) mencapai 115.000 ton. Rendemen CPO tercatat 23,59 persen, melampaui target perusahaan.
Kontribusi regional tersebut menopang kinerja konsolidasi PalmCo. Secara keseluruhan, perusahaan mencatatkan produktivitas CPO 4,70 ton per hektare per tahun, tumbuh 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba bersih PalmCo mencapai Rp6,19 triliun, atau sekitar 170 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Setyanto menilai capaian tersebut mencerminkan praktik terbaik transformasi bisnis perkebunan yang modern, efisien, dan berorientasi keberlanjutan.
“Apa yang kami lihat menunjukkan integrasi antara digitalisasi, mekanisasi, dan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Ini bukan retorika, tetapi kerja nyata di lapangan,” katanya.