Sementara itu, analis independen bisnis penerbangan Gatot Rahardjo menilai efisiensi menjadi kunci utama keberhasilan transformasi maskapai. Menurutnya, efisiensi dapat dilakukan baik pada aspek operasional, seperti pengelolaan rute dan penggunaan pesawat yang lebih hemat bahan bakar, maupun non-operasional melalui pengelolaan SDM, digitalisasi proses, dan penyederhanaan prosedur.
“Namun demikian, efisiensi tidak boleh mengorbankan keselamatan penerbangan maupun melanggar regulasi. Keselamatan dan keberlanjutan bisnis harus berjalan beriringan,” tegasnya.
Dengan dukungan serikat karyawan dan seluruh insan perusahaan, program transformasi Garuda Indonesia diharapkan mampu memperkuat fundamental bisnis perusahaan dan mendorong pencapaian kinerja positif, termasuk target pencatatan laba bersih dan ekuitas positif pada akhir.
(Dani Jumadil Akhir)