Perjalanan bisnis ini juga tidak langsung besar. Di awal penjualan, produknya hanya laku dua hingga tiga bungkus per minggu. Junita mengemas sendiri produknya, mempelajari iklan secara otodidak, dan mulai memasarkan lewat e-commerce. Lonjakan penjualan terjadi saat pandemi ketika masyarakat mencari minuman kesehatan untuk menjaga daya tahan tubuh.
Kini, Glaranadi mampu menjual sekitar 7.000 - 8.000 produk per bulan nya, dengan pasar terbesar di Indonesia serta pengiriman konsumen di Singapura dan Malaysia. Bahan baku sebagian besar berasal dari petani lokal di Jawa dan Cirebon.
Di tengah kepercayaan konsumen terhadap produk kesehatan, Junita juga menyiapkan langkah legalitas dengan mengurus sertifikasi BPOM secara bertahap untuk produk unggulan.
“Di produk kesehatan, kepercayaan itu kunci. Tahun ini kami mulai mengurus BPOM untuk top produk agar konsumen merasa lebih aman,” ujar Junita.
Bagi Junita, Glaranadi bukan sekadar bisnis minuman herbal, melainkan usaha meningkatkan kualitas hidup melalui produk alami yang mudah dikonsumsi. Filosofi nama brand pun mencerminkan hal itu merupakan tujuan hati.
“Kami ingin produk ini membantu orang punya kualitas hidup lebih baik, supaya mereka punya energi dan ruang untuk mengejar cita-cita mereka,” tuturnya.
Dari percobaan kecil di masa pandemi hingga menjadi produk yang dikirim se-Indonesia hingga lintas negara, kisah Junita Riany menunjukkan bahwa bisnis bisa tumbuh dari pengalaman pribadi, ketekunan, dan keberanian mendengar kebutuhan konsumen.
(Dani Jumadil Akhir)