TANGERANG - Berawal dari dapur rumah saat pandemi Covid-19 di 2020, sebuah racikan herbal sederhana kini beralih menjadi produk kesehatan yang dikirim seluruh Indonesia hingga ke luar negeri.
Brand minuman herbal Glaranadi bermula dari pengalaman pendirinya Junita Riany yang kala itu tengah mengalami gangguan kesehatan berupa sulit tidur, peradangan, serta emosi yang tidak stabil.
Awalnya, Junita hanya mencoba membuat sabun dan skincare alami dari bahan herbal. Namun kondisi kesehatannya mendorong ia meracik minuman berbahan chamomile, lavender, hingga spearmint. Racikan tersebut ternyata memberikan efek menenangkan dan membantu tidurnya lebih nyenyak. Dari pengalaman itulah, ia memutuskan menjual produk herbal dalam tea bag.
“Saya mulai dari kebutuhan pribadi. Waktu itu saya mengalami inflamasi dan sulit tidur, lalu saya racik minuman herbal dari bahan yang sama dengan skincare. Ternyata cocok di saya dan justru minuman ini lebih diminati dibandingkan skincare,” ujarnya dalam wawancara langsung di rumah produksi, Tangerang, Rabu (4/2/2026).
Dari hanya lima varian produk di awal, kini Glaranadi memiliki lebih dari 100 SKU, mulai dari minuman herbal, teh hijau dan hitam, hingga produk makanan sehat seperti peanut butter dan almond butter. Produk andalannya antara lain spearmint dan matcha, yang banyak dicari konsumen muda untuk mengatasi jerawat hormonal dan membantu kualitas tidur.
Junita mengembangkan produknya berdasarkan interaksi langsung dengan pembeli. Dia aktif membalas pesan pelanggan di platform Shoope, mendengar keluhan mereka sebagai insight baru baginya, lalu menyesuaikan formulasi produk sesuai kebutuhan.
“Banyak pembeli curhat soal susah tidur, jerawat hormonal, sampai kecemasan. Dari situ saya belajar pola kebutuhan mereka dan mengembangkan produk yang sesuai,” katanya.
Perjalanan bisnis ini juga tidak langsung besar. Di awal penjualan, produknya hanya laku dua hingga tiga bungkus per minggu. Junita mengemas sendiri produknya, mempelajari iklan secara otodidak, dan mulai memasarkan lewat e-commerce. Lonjakan penjualan terjadi saat pandemi ketika masyarakat mencari minuman kesehatan untuk menjaga daya tahan tubuh.
Kini, Glaranadi mampu menjual sekitar 7.000 - 8.000 produk per bulan nya, dengan pasar terbesar di Indonesia serta pengiriman konsumen di Singapura dan Malaysia. Bahan baku sebagian besar berasal dari petani lokal di Jawa dan Cirebon.
Di tengah kepercayaan konsumen terhadap produk kesehatan, Junita juga menyiapkan langkah legalitas dengan mengurus sertifikasi BPOM secara bertahap untuk produk unggulan.
“Di produk kesehatan, kepercayaan itu kunci. Tahun ini kami mulai mengurus BPOM untuk top produk agar konsumen merasa lebih aman,” ujar Junita.
Bagi Junita, Glaranadi bukan sekadar bisnis minuman herbal, melainkan usaha meningkatkan kualitas hidup melalui produk alami yang mudah dikonsumsi. Filosofi nama brand pun mencerminkan hal itu merupakan tujuan hati.
“Kami ingin produk ini membantu orang punya kualitas hidup lebih baik, supaya mereka punya energi dan ruang untuk mengejar cita-cita mereka,” tuturnya.
Dari percobaan kecil di masa pandemi hingga menjadi produk yang dikirim se-Indonesia hingga lintas negara, kisah Junita Riany menunjukkan bahwa bisnis bisa tumbuh dari pengalaman pribadi, ketekunan, dan keberanian mendengar kebutuhan konsumen.
(Dani Jumadil Akhir)