Airlangga menekankan bahwa pemerintah telah belajar dari krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina untuk menghadapi ketidakpastian saat ini. Meski kenaikan harga komoditas global berpotensi menambah penerimaan negara, fokus utama pemerintah adalah menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat melalui subsidi.
"Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi ya kita akan lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik," jelasnya.
Di tengah situasi yang masih sulit diprediksi atau too early to call, Airlangga mengingatkan bahwa daya tahan ekonomi (resiliensi) menjadi kunci utama bagi kepercayaan investor. Ketidakpastian global cenderung membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.
“Inilah yang harus kita dorong karena the new war juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan karena dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi,” kata Airlangga.
Pemerintah dipastikan akan terus memantau dinamika geopolitik ini secara saksama guna mengambil langkah kebijakan fiskal dan moneter yang tepat demi menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil.
(Taufik Fajar)