JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) sempat menyentuh level Rp17.000, salah satunya akibat perang antara AS, Israel, dan Iran. Pelemahan mata uang Garuda pun membuat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dikritik tajam oleh masyarakat di media sosial.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa indikator ekonomi nasional saat ini menunjukkan performa berbeda dari asumsi resesi yang beredar di kalangan pengamat.
Purbaya menceritakan pengalamannya menghadapi kritik tajam dari masyarakat di dunia maya terkait pergerakan nilai tukar.
"Walaupun di TikTok saya dimaki-maki orang, katanya, 'Hey Pak Purbaya, Menteri Keuangan, kerjanya apa aja lu, tuh rupiah lihatin,' tapi kita menilai harus dengan fair (adil). Apa yang terjadi harus dibandingkan juga dengan kondisi seluruh negara di dunia seperti apa," ungkapnya.
"Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi. Gitu lah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian, dan boro-boro krisis, resesi aja belum. Melambatnya aja belum," tegas Purbaya.
Meskipun pasar saham sedang bergejolak, Purbaya meminta para investor tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan. Ia meyakinkan bahwa pemerintah terus menjaga fondasi ekonomi agar tetap kokoh di tengah tekanan eksternal global.
"Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan. Jadi, yang investor di pasar saham nggak usah takut, pondasi kita jaga betul," lanjutnya.