Penyebab IHSG Merosot di Bawah 7.000 dan Rupiah Melemah ke Rp17.000

Feby Novalius, Jurnalis
Selasa 07 April 2026 17:10 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun di bawah level 7.000. (Foto: Okezone.com/IMG)
Share :

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun di bawah level 7.000, sementara rupiah tertekan ke level Rp17.000 per dolar AS akibat meningkatnya tekanan fiskal di tengah sentimen global yang masih bergejolak.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan IHSG sempat terkoreksi dan ditutup di bawah level 7.000, mencerminkan dominasi sentimen risk-off.

“Pelemahan IHSG yang sempat turun di bawah 7.000, bersamaan dengan rupiah yang bertahan di atas 17.000, mencerminkan meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik. Dalam kondisi ini, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi,” ujar Rully, Selasa (7/4/2026).

Rully menambahkan, pergerakan rupiah di atas level tersebut, di tengah indeks dolar yang relatif stabil, mengindikasikan Bank Indonesia mulai memberi ruang penyesuaian lebih besar setelah periode intervensi yang cukup agresif.

“Dengan IHSG yang telah terkoreksi hingga 6.917 dan rupiah di atas 17.000, kami melihat tekanan pasar masih berpotensi berlanjut, terutama jika arus keluar dana asing meningkat ke kisaran Rp500 miliar–Rp1 triliun per hari dalam jangka pendek,” ungkapnya.

Ke depan, tekanan diperkirakan masih berlanjut seiring eskalasi geopolitik dan kenaikan harga minyak, yang umumnya menekan mata uang negara net importir seperti Indonesia.

Di sisi fiskal, kebijakan pemerintah menahan harga BBM untuk menjaga daya beli turut mendorong defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9 persen PDB, meningkat dari 0,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” kata Rully.

IHSG ditutup di level 6.989,43 atau turun 0,53 persen, sementara rupiah berada di Rp17.035 per dolar AS. Investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp623 miliar, mencerminkan tekanan pasar yang tinggi di tengah dinamika global.

 

Sementara itu, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish.

“IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di 6.892–6.731, sementara resistance terdekat berada di kisaran 7.117–7.222,” ujar Nafan.

Nafan menambahkan, selama IHSG belum mampu menembus resistance tersebut, tekanan jual masih akan mendominasi pergerakan indeks dalam jangka pendek.

Di tengah kondisi ini, Nafan melihat peluang trading selektif pada sejumlah saham. Barito Pacific (BRPT) menunjukkan indikasi akumulasi, Elnusa (ELSA) berada dalam kondisi oversold, sementara Map Aktif Adiperkasa (MAPA) berada dalam fase bullish consolidation.

“Pergerakan indeks dan saham saat ini menunjukkan pasar masih cenderung berhati-hati, dengan peluang trading yang lebih selektif,” pungkas Rully.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya