Selain itu, sektor manufaktur juga menunjukkan performa dinamis dengan pertumbuhan sebesar 5,4 persen pada tahun lalu, yang menjadi modal kuat untuk melanjutkan tren positif di 2026.
Salah satu mesin penggerak utama pada kuartal I-2026 adalah eksekusi belanja negara yang sangat cepat. Kemenkeu mencatat lonjakan signifikan belanja negara menjadi Rp815 triliun pada kuartal pertama tahun ini, naik dari posisi tahun sebelumnya sekitar Rp600 triliun.
"Ini (belanja negara) pertumbuhan 30 persen. Nah, ini pasti langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026. Makanya yakin 5,5 persen pertumbuhan ekonomi akan tetap tercapai," tambah Febrio.
Di sisi lain, Bank Dunia dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026 menekankan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi beban bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik. Kenaikan harga energi dunia akibat konflik diprediksi akan menekan laju PDB Indonesia.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat ke level 4,7 persen, lantaran tekanan dari tingginya harga minyak dan sentimen penghindaran risiko (risk-off) hanya akan diimbangi sebagian oleh penerimaan komoditas dan inisiatif investasi yang digerakkan oleh negara," tulis laporan Bank Dunia tersebut.
(Feby Novalius)