Menurut dia, tekanan biaya produksi akibat situasi global dapat mempersempit ruang gerak industri nasional, terutama sektor manufaktur yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan tenaga kerja di berbagai sektor.
Selain faktor energi akibat konflik internasional, Said Iqbal juga menyoroti kebijakan impor yang dinilai berpotensi menekan penyerapan tenaga kerja domestik.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah masuknya kendaraan impor dari luar negeri yang dianggap mengurangi peluang produksi di dalam negeri.
Dia menjelaskan, apabila produksi dilakukan di Indonesia, maka rantai pasok industri dapat menyerap puluhan ribu tenaga kerja mulai dari sektor komponen, logistik, hingga distribusi, namun jika Pemerintah memilih untuk melakukan impor langsung dari luar negeri, maka ancaman hilangnya pekerjaan semakin nyata.
(Taufik Fajar)