Riset inovatif ini tidak disusun sendiri. Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) menggandeng SKK Migas dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memastikan kajian ini komprehensif dari sisi praktis maupun akademis. Delegasi BKI dipimpin oleh Senior Manager Pemasaran Offshore Klas Cabang Utama Klas Tanjung Priok, Eko Maja Priyanto, dengan dukungan dari Koordinator Perkapalan dan Kemaritiman SKK Migas, Willy Yuniar, serta Guru Besar ITS, Prof. Ir. Eko Budi Djatmiko.
Dalam dunia migas, integritas struktur fasilitas yang telah beroperasi bertahun-tahun menjadi tantangan tersendiri. Seiring bertambahnya usia fasilitas, risiko kelelahan struktur (fatigue) dan korosi meningkat. Keamanan migas tidak hanya mencakup keselamatan pekerja, tetapi juga ketahanan infrastruktur terhadap kondisi laut yang ekstrem.
BKI, sebagai satu-satunya badan klasifikasi nasional, memiliki tanggung jawab memastikan seluruh aset lepas pantai di Indonesia memenuhi standar internasional. Kehadiran BKI di OTC Asia 2026 menjadi bukti komitmen Indonesia dalam mendorong keberlanjutan sektor energi melalui teknologi dan riset berbasis data.
BKI memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat hubungan dengan perusahaan energi global. Diskusi strategis dilakukan dengan perusahaan internasional seperti Petronas, Eni S.p.A., hingga Yinson Holdings Berhad.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat peran Indonesia dalam penetapan standar keselamatan offshore di tingkat Asia maupun global, sekaligus memastikan operasional migas di dalam negeri berjalan lebih aman dan ramah lingkungan.
(Feby Novalius)