Rupiah Hari Ini Ditutup Naik ke Rp17.143 per Dolar AS

Anggie Ariesta, Jurnalis
Selasa 21 April 2026 16:55 WIB
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup naik 25 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.143 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (21/4/2026).

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa sentimen datang dari masa depan perang sebagian besar masih belum pasti, di tengah sinyal yang saling bertentangan tentang apakah pembicaraan damai AS-Iran lebih lanjut akan berlangsung.

"Trump mengkonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk pembicaraan lebih lanjut minggu ini," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Para pejabat Iran mengatakan pembicaraan tampaknya tidak mungkin selama AS mempertahankan blokade angkatan lautnya terhadap negara tersebut. Tetapi laporan menunjukkan bahwa Teheran telah mengkonfirmasi kepada mediator regional bahwa mereka mengirim delegasi ke Islamabad.

Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran akan berakhir pada hari Rabu ini, dengan Trump memberi sinyal bahwa perpanjangan kesepakatan tampaknya tidak mungkin. Pasar juga tegang karena aksi militer lebih lanjut di Timur Tengah setelah AS menembaki dan menangkap kapal berbendera Iran pada akhir pekan.

Selain perang Iran, fokus minggu ini juga akan tertuju pada sidang konfirmasi Warsh, yang dijadwalkan dimulai pukul 10:00 ET (14:00 GMT). Independensinya dari Trump—yang terus-menerus menuntut suku bunga yang lebih rendah—akan menjadi poin fokus utama.

Pencalonan Warsh dipandang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar. Meskipun ia telah menyatakan dukungan untuk seruan Trump agar suku bunga lebih rendah, ia di masa lalu telah mengkritik aktivitas pembelian aset Fed, dan menyerukan neraca yang lebih ramping.

Dari sentimen domestik, ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan situasi geopolitik global saat ini. Pemerintah berupaya meningkatkan investasi dengan memastikan ekonomi nasional tumbuh sesuai target dan menyelaraskan kebijakan fiskal dengan realisasinya demi menciptakan perbaikan kondisi ekonomi secara berkelanjutan.

 

Adapun Indonesia tengah menggeser fokus pembangunan, tidak hanya menjaga stabilitas, tapi juga menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Transformasi ini didorong melalui tiga pilar utama, yaitu investasi, industrialisasi, dan produktivitas.

Selain itu, kinerja ekonomi Indonesia relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya, ditopang oleh pertumbuhan yang solid, inflasi rendah, serta defisit dan rasio utang yang terjaga.  

Ketahanan ini tidak terlepas dari peran APBN sebagai shock absorber dalam melindungi daya beli masyarakat, dengan tetap menjaga disiplin fiskal di bawah batas defisit 3 persen PDB. Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN.

Di tengah krisis energi yang dipicu oleh perang saat ini, pelajaran penting yang diambil adalah ketahanan Indonesia saat ini berakar bukan pada langkah-langkah darurat, tetapi pada reformasi struktural yang diimplementasikan jauh sebelum krisis. Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah menjadi pengingat bahwa efisiensi proses dan perizinan merupakan kunci ketahanan energi.

Dalam hal ini, Indonesia mempercepat reformasi dengan menyederhanakan perizinan, membentuk task force debottlenecking, serta mengurangi hambatan dalam impor energi.

Kemudian, di tengah penyesuaian harga global, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun relatif meningkat, namun tetap berada dalam asumsi pemerintah. Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap harga energi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan dukungan bagi kelompok rentan atau melanggar batas defisit fiskal Indonesia.  

Meski Indonesia mencatat arus keluar devisa sebesar USD1,8 miliar dan depresiasi rupiah, namun defisit fiskal Indonesia tetap di bawah 3 persen dan cadangan devisa tetap memadai, yang membuktikan bahwa kredibilitas makro-finansial berfungsi di saat yang paling penting, termasuk dalam memperkuat ketahanan energi.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.140-Rp17.180 per dolar AS.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya