JAKARTA – Lebih dari 90 persen perdagangan dunia berlangsung melalui jalur laut, menjadikan sektor maritim sebagai tulang punggung sistem logistik global. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, konektivitas laut menjadi elemen penting dalam menjaga distribusi energi nasional.
Dalam konteks tersebut, distribusi energi di Indonesia banyak bergantung pada sistem pelayaran untuk menyalurkan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG dari kilang hingga terminal dan titik serah di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menyampaikan bahwa sistem pelayaran memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan distribusi energi nasional, meski tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat.
“Lebih dari sekadar moda transportasi, shipping merupakan invisible infrastructure yang menopang distribusi energi nasional. Dalam karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan, keandalan sistem ini menjadi kunci agar energi dapat diakses secara merata, termasuk di wilayah 3T,” ujar Roberth, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, kompleksitas distribusi energi nasional menuntut sistem pelayaran yang andal dan adaptif terhadap berbagai tantangan operasional, termasuk kondisi cuaca dan dinamika distribusi.