Airlangga juga mengatakan bahwa IMF dalam Spring Meeting menilai Indonesia sebagai bright spot di Indo-Pasifik. Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap di atas 5 persen, yakni sekitar 5,2 persen.
“JP Morgan juga menyebut Indonesia sebagai negara kedua paling tahan krisis setelah Afrika Selatan. Hal ini ditopang oleh produksi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri, gas, serta kemampuan mendorong energi terbarukan,” paparnya.
Ia menambahkan, pada kuartal II-2026, inflasi Indonesia masih terkendali di level 2,42 persen, Indeks Keyakinan Konsumen berada di posisi 122,9, serta neraca perdagangan hingga Maret mencatat surplus 3,32 miliar dolar AS. Capaian tersebut menjadikan Indonesia mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut.
“Selain itu, kredit juga tumbuh 9,49 persen. Namun yang menjadi perhatian adalah pelemahan rupiah. Akan tetapi, pelemahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara lain akibat gejolak global,” kata Airlangga.
(Feby Novalius)