SPBU Swasta Mulai Beli Solar dari Pertamina, Impor Resmi Dihentikan

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Rabu 06 Mei 2026 15:52 WIB
SPBU Swasta Mulai Beli Solar dari Pertamina, Impor Resmi Dihentikan (Foto: Pertamina Patra Niaga)
Share :

JAKARTA -  SPBU swasta mulai membeli solar melalui PT Pertamina (Persero). Hal ini menyusul telah beroperasinya RDMP Balikpapan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, kebijakan ini membuat pemerintah mampu menghentikan impor solar untuk produk CN 48 dan CN 51 mulai kuartal II-2026. Sebab kedua produk ini sudah mampu diproduksi di dalam negeri melalui RDMP Balikpapan.

"(Sekarang) sudah jalan, sebenarnya kan sejak diumumkan, itu sudah dilakukan pertemuan dan kalau ditanya ke swasta pasti sudah ada, coba saja tanya," ujar Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Laode mengatakan, produk solar yang dibeli di kilang dalam negeri dari Pertamina ini merupakan produk CN48. Kementerian ESDM menegaskan mulai April 2026, pasokan solar di SPBU dipenuhi dari kilang minyak Pertamina. Impor solar hanya diperbolehkan sampai Maret 2026.

 

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pada tahun 2026, Indonesia tidak lagi melakukan impor solar.  

Pengoperasian RDMP Balikpapan ini menambah produksi solar, avtur, dan tambahan sedikit elpiji. Sementara untuk  produksi bensin, nafta blok, baru akan beroperasi pada Juni 2026. Kedua kilang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, seiring upaya pemerintah menurunkan impor BBM.

"Ke depan kita akan impor crude saja, kalau ini kita mampu lakukan, maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis dan setelah ini ramai lagi di sosmed karena dianggap Menteri ESDM potong-potong jalur barang importir," kata Bahlil saat peresmian Kilang RDMP Balikpapan (12/1).

Proyek RDMP Balikpapan memiliki nilai investasi mencapai USD7,4 miliar. Dari total tersebut, USD4,3 miliar berasal dari ekuitas, sedangkan USD3,1 miliar diperoleh melalui pinjaman yang didukung oleh Export Credit Agency (ECA). 

Proyek ini akan meningkatkan ketahanan energi nasional, karena akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang sebanyak 100 ribu barel per hari. Sehingga kapasitas pengolahan menjadi 360 ribu barel per hari.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya