Dari sisi eksternal, ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi motor penguatan indeks Dolar AS. Penolakan Amerika Serikat terhadap proposal damai Iran serta serangan-serangan yang masih terjadi di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar global.
Ibrahim juga menyoroti adanya serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, yang melibatkan dinamika negara-negara eks anggota OPEC.
Kondisi ini secara langsung mendongkrak harga minyak mentah dunia (Brent crude oil) yang berdampak pada lonjakan biaya transportasi global.
Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat cukup tinggi di angka 5,61 persen, Ibrahim menilai hal tersebut tidak cukup kuat untuk menyokong Rupiah. Pasalnya, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh konsumsi dan belanja negara, bukan investasi produktif.
Dia juga menyoroti ancaman nyata di sektor riil, yakni gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai masif.
"Sejak di bulan Januari sampai bulan April tahun 2026 sudah 40 ribu buruh baik di padat karya seperti manufaktur, tekstil dan garmen serta elektronik ini sudah terkena PHK. Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan," paparnya.
(Dani Jumadil Akhir)