“Ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus penjualan saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian. Ini juga kami konfirmasi,” sambungnya.
Hasan menambahkan, valuasi pasar saham Indonesia saat ini dinilai cukup menarik dibandingkan dengan bursa regional lainnya. Menurutnya, rasio price to earnings ratio (PER) IHSG yang berada di kisaran 16 kali mencerminkan harga saham domestik yang lebih rendah dibandingkan saat IHSG mencetak rekor tertinggi pada pertengahan Januari lalu.
“Saat ini secara PER regional, rata-rata saham kita sudah di bawah rata-rata bursa lainnya, di level sekitar 16 kali,” ujar Hasan.
Dengan kondisi tersebut, OJK berharap investor dapat memanfaatkan momentum koreksi pasar secara selektif untuk masuk ke saham-saham dengan fundamental dan prospek kinerja yang baik ke depan.
Hasan menilai kondisi pasar saat ini justru dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang, terutama pada emiten yang masih mencatatkan pertumbuhan kinerja dan memiliki prospek bisnis positif.