JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% pada kuartal I-2026 belum sepenuhnya berdampak luas ke sektor riil. Hal ini dapat dilihat dari jasa layanan di sektor pelabuhan.
Di balik angka pertumbuhan ekonomi itu, dunia logistik nasional justru menghadapi tekanan berat akibat antrean kapal yang semakin parah di sejumlah pelabuhan utama.
Kemacetan pelabuhan kini mulai berdampak langsung pada biaya logistik nasional. Kapal yang tertahan berhari-hari di area anchorage membuat konsumsi bahan bakar membengkak, jadwal pengiriman berantakan, hingga memicu kerugian berlapis bagi pelaku usaha.
Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya misalnya, waktu tunggu kapal untuk sandar di Terminal Peti Kemas (TPK) Berlian rata-rata mencapai 30 jam.
Kondisi ini dipicu oleh tingginya permintaan layanan belum mampu diimbangi dengan peningkatan kapasitas bongkar muat peti kemas.
Senior Manager Hukum dan Humas PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 Wahyu Jatmiko mengakui bahwa kapasitas TPK Berlian Surabaya masih jauh di bawah permintaan.
“Masih terdapat waktu tunggu kapal untuk bertambat di TPK Berlian dengan waktu rata-rata 30 jam. Kapasitas terminal saat ini hanya sanggup melayani 53 call kapal per minggu, sementara permintaan telah melonjak hingga 70 call per minggu,” kata Wahyu dikutip, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Kondisi tak berbeda di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Menjelang dan setelah Lebaran 2026, antrean kapal di anchorage sempat mencapai sembilan unit sekaligus, dengan waktu tunggu 4–6 hari. Yard Occupancy Ratio (YOR) terminal melambung hingga 90%, jauh melampaui batas aman 65%.
Tidak hanya soal lonjakan volume, struktur pasar yang tidak kompetitif juga memberikan dampak. Wakil Direktur Operasi PT Pelayaran Tresnamuda Sejati Sunarno HS menggambarkan betapa minimnya pilihan di Semarang dibanding pelabuhan lain.
“Di Semarang, terminal peti kemas hanya satu, saingannya tidak ada. Kalau di Tanjung Priok ada banyak pilihan: NPCT One, TPK Koja, JICT, EMA. Di Surabaya masih ada TPS dan Teluk Lamong. Tapi di Semarang tidak ada,” ujar Sunarno.
Kondisi ini membuat perbaikan layanan sulit terpacu secara organik. Satu-satunya terminal tidak memiliki tekanan kompetitif untuk berbenah.