Sementara, Ketua DPW ALFI Jawa Tengah Teguh Arif Handoko menilai langkah darurat yang sudah diambil, seperti mengalihkan kontainer ke lini dua dan pemeriksaan jalur merah bersama Bea Cukai di hari Sabtu, hanya menambal masalah jangka pendek.
“Tahun ini minimal naik 10% lagi, bisa 1,1–1,2 juta TEUs. Kawasan industri Jawa Tengah baru berproduksi 30% dari kapasitas penuh. Kalau sudah penuh semua, volume akan jauh lebih besar lagi,” kata Teguh.
Teguh mengingatkan bahwa infrastruktur harus segera diperluas, bukan sekadar diperbaiki. Perpanjangan dermaga dari 600 meter menjadi 1.000 meter harus segera dilakukan. Empat unit crane baru jenis QCC Panamax yang sudah tiba perlu segera di operasikan sesuai rencana yaitu sekitar Juni 2026, setelah tahap uji coba selesai.
Sebab, ketika kapal tertahan di anchorage selama berhari-hari, mesin tetap berjalan dan konsumsi bahan bakar terus berjalan. Biaya BBM yang terbuang sia-sia selama masa antrean menjadi beban nyata yang langsung menggerus margin pengusaha pelayaran. Belum lagi kebutuhan angkutan logistik darat yang turut melonjak akibat pengalihan rute.
Dampaknya tidak berhenti di atas kapal. Pengusaha di Kawasan Industri Kendal terpaksa mengalihkan ekspor ke Tanjung Priok atau Tanjung Perak demi menghindari penumpukan di Semarang.
“Ngapain kita kirim ke Surabaya, ngapain ke Jakarta, kalau ongkos truknya saja sudah plus-minus Rp8 juta? Ini menambah cost logistik mereka,” kata Teguh.
Wahyu Jatmiko dari Pelindo pun menjelaskan, untuk mengatasinya, pengelola TPK Berlian tengah menjalankan beberapa quick wins operasional secara bertahap. Di bidang peralatan, TPK Berlian akan diperkuat dengan tambahan 2 unit Quay Container Crane (QCC) yang telah tiba dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada akhir Juni 2026 setelah melalui tahapan uji coba dan penyelesaian teknis, untuk memperkuat alat bongkar muat di TPK Berlian yang sudah beroperasi saat ini, yaitu 4 unit Harbour Mobile Crane (HMC).
Di bidang operasional, implementasi berthing window dan booking priority sedang dipersiapkan untuk meningkatkan kepastian jadwal sandar kapal serta optimalisasi deployment sumber daya, mengikuti pola operasional di dua terminal petikemas lainnya di Surabaya, yaitu TPK Lamong dan TPK Nilam.
Optimalisasi penggunaan lapangan juga dilakukan melalui pengaturan jadwal open stack maupun late coming container yang disepakati bersama perusahaan pelayaran guna meningkatkan kelancaran arus peti kemas dan kualitas layanan terminal.
(Dani Jumadil Akhir)