"Ketika Indonesia masih impor pangan, semua diam. Tidak ada yang membuat narasi seperti ini. Namun, ketika kita bergerak menuju swasembada, justru muncul berbagai tudingan dan fitnah. Padahal, yang kami bangun bukan hutan, melainkan lahan rawa yang dioptimalkan untuk produksi pangan," jelasnya.
Amran mengingatkan bahwa swasembada pangan merupakan kebutuhan strategis bangsa. Tanpa kemampuan memproduksi pangan sendiri, Indonesia akan terus bergantung pada impor dan rentan menghadapi krisis pangan global.
"Kalau kita tidak swasembada dan terus impor, lalu suatu saat negara lain tidak bisa memasok pangan kepada kita, bagaimana nasib rakyat? Karena itu, yang kita pilih adalah pesta panen, bukan ketergantungan impor," katanya.
Menurut Amran, pengembangan lahan pertanian telah dilakukan di sedikitnya 14 provinsi, mulai dari Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Aceh, hingga Sulawesi Selatan. Namun, keberhasilan tersebut kerap tenggelam oleh isu-isu yang tidak mencerminkan keseluruhan program yang sedang dijalankan pemerintah.
"Yang kami bangun adalah masa depan pangan Indonesia. Lahan-lahan tidur kami hidupkan kembali, rawa kami optimalkan menjadi sawah produktif, dan hasilnya kami serahkan kepada petani. Tujuannya satu, memastikan Indonesia mampu memberi makan rakyatnya sendiri," tutupnya.
(Feby Novalius)