Dampak Mengerikan Anjloknya Rupiah Bagi Industri Penerbangan, Maskapai Tutup Sejumlah Rute

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Jum'at 05 Juni 2026 14:03 WIB
Industri penerbangan nasional menghadapi tantangan berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah. (Foto: Okezone.com/InJourney(
Share :

Untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tekanan keuangan yang berat, manajemen maskapai kini lebih selektif dalam mengoperasikan armada mereka. Prioritas utama saat ini adalah memastikan setiap jam terbang mampu menutupi biaya operasional agar perusahaan tidak terus merugi.

“Industri maskapai sedang dalam kondisi survival mode, jadi yang dikorbankan adalah upaya mengurangi kerugian. Maskapai hanya terbang di rute yang secara ekonomis bisa mencapai break even point (BEP). Artinya ada pengurangan frekuensi dan rute, hanya fokus pada rute-rute yang memiliki BEP bagus,” jelas Bayu.

Kondisi ini diperparah dengan proses pemulihan industri pascapandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya tuntas hingga 2025. Selain kendala rantai pasok global, jumlah pesawat yang siap beroperasi di Indonesia menurun drastis dari sekitar 560 unit sebelum pandemi menjadi sekitar 180 hingga 380 unit yang masih aktif saat ini.

Menghadapi situasi yang semakin pelik, para pelaku industri berharap otoritas terkait segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan kondisi moneter dan meninjau kembali kebijakan fiskal di sektor perhubungan. Revisi aturan tarif dinilai mendesak agar mencerminkan realitas beban biaya yang ditanggung maskapai saat ini.

“Harapan kami terhadap kondisi moneter, termasuk suku bunga, dapat lebih stabil. Dari sisi fiskal, kami meminta revisi Tarif Batas Atas (TBA) segera diberlakukan dengan mengikuti variabel utama operasi penerbangan, yaitu harga avtur dan kurs dolar AS,” tegasnya.

(Feby Novalius)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya