Siapa yang Akan Membukukan Jutaan UMKM?

Opini, Jurnalis
Jum'at 12 Juni 2026 19:10 WIB
Praktisi dan Enterpreneur Ratu Hasanah Semarini. (foto: Okezone.com)
Share :

Kekhawatiran serupa juga muncul di kawasan Asia Pasifik. Institute of Management Accountants (IMA) dalam laporan Talent Retention in the Asia Pacific Accounting and Finance Profession menunjukkan perusahaan semakin sulit menarik dan mempertahankan tenaga profesional di bidang akuntansi dan keuangan. Tingkat perpindahan tenaga kerja yang tinggi, perubahan ekspektasi generasi muda, serta kompetisi dengan bidang profesi lain menjadi tantangan yang semakin nyata.

Indonesia juga menunjukkan gejala yang patut dicermati. Data PDDikti yang dipublikasikan Databoks pada 2 Juni 2026 menunjukkan bahwa jumlah lulusan tahun 2025 program studi manajemen jauh lebih besar dibandingkan lulusan program studi akuntansi, yaitu sekitar 140.132 orang untuk manajemen, sedangkan akuntansi sekitar 57.347 orang. Lulusan akuntansi ini turun 15,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Fenomena ini menarik karena sebagian besar aktivitas bisnis modern bergantung pada informasi akuntansi. Tidak ada laporan keuangan tanpa akuntan, tidak ada laporan audit tanpa akuntan, tidak ada sistem perpajakan tanpa akuntan. Bahkan keputusan pemberian kredit, investasi, dan penilaian risiko usaha sangat bertumpu pada kualitas informasi yang dihasilkan melalui proses akuntansi.

Indonesia sudah pasti membutuhkan manajer, pemasar, analis bisnis, dan wirausahawan. Namun Indonesia juga sangat membutuhkan orang-orang yang mampu menghasilkan dan menganalisis informasi keuangan yang andal sebagai dasar pengambilan keputusan. Tanpa fondasi ini, berbagai keputusan bisnis berisiko dibangun di atas informasi yang kurang lengkap atau bahkan keliru.

Di sinilah paradoks hadir. Di satu sisi, pemerintah mendorong digitalisasi perpajakan seperti Coretax, memperluas akses pembiayaan UMKM, serta memperkuat tata kelola. PP Nomor 20 Tahun 2026 merupakan bagian dari agenda besar ini. Di sisi lain, profesi yang menjadi fondasi seluruh proses ini justru menghadapi tantangan regenerasi, baik secara global maupun domestik.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa teknologi informasi maupun AI dapat mempercepat bahkan mengganti pekerjaan akuntan. Memang benar, AI dapat mengotomatisasi banyak pekerjaan yang selama ini dilakukan akuntan, mulai dari pencatatan transaksi hingga penyusunan laporan sederhana. Namun pembukuan yang baik tidak sekadar memasukkan angka ke dalam sistem, tetapi membutuhkan pemahaman terhadap standar akuntansi, regulasi perpajakan, pengendalian internal, substansi ekonomi transaksi, serta kemampuan pertimbangan profesional.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya