JAKARTA - Beban subsidi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 berpotensi mengalami pembengkakan, seiring masih tingginya harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah serta tingginya kebutuhan energi bersubsidi di dalam negeri.
Hal tersebut tercermin dalam paparan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai asumsi dasar sektor ESDM RAPBN 2027. Pemerintah mengusulkan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) pada kisaran USD70 hingga USD95 per barel, sementara kurs rupiah diproyeksikan berada di level Rp17.100 per dolar AS.
Kombinasi kedua faktor tersebut diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi energi, terutama subsidi listrik yang diproyeksikan mencapai Rp113,45 triliun hingga Rp122,83 triliun pada 2027. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi subsidi listrik pada 2025 yang sebesar Rp87,46 triliun dan alokasi dalam APBN 2026 sebesar Rp100,83 triliun.
Selain subsidi listrik, pemerintah juga tetap mempertahankan berbagai skema subsidi energi lainnya. Volume BBM bersubsidi pada 2027 diperkirakan mencapai 19,343 juta hingga 19,561 juta kiloliter (KL), meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar 18,92 juta KL, maupun target di 2026 sebesar 19,17 juta KL.
Dari jumlah tersebut, konsumsi minyak solar bersubsidi diperkirakan mendominasi dengan volume mencapai 18,80 juta hingga 19 juta KL, sedangkan minyak tanah diproyeksikan berada pada kisaran 543 ribu hingga 561 ribu KL.
Sementara itu, volume LPG tabung 3 kilogram (kg) dipertahankan sebesar 8 juta metrik ton, sama dengan target APBN 2026. Pemerintah juga masih mempertahankan subsidi tetap minyak solar sebesar Rp1.000 per liter.
"Sebelum terjadi ketegangan di Timur Tengah, itu total subsidi kita untuk LPG itu Rp80-87 triliun per tahun, sekarang akan naik lagi (subsidinya), karena harga ICP naik," kata Bahlil dalam Raker Bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).