Akuisisi Kilang Shell Jadi Titik Balik Chandra Asri (TPIA), Ini Hasilnya

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Kamis 18 Juni 2026 14:27 WIB
Akuisisi Kilang Shell Jadi Titik Balik Chandra Asri (TPIA), Ini Hasilnya (Foto: Chandra Asri)
Share :

Selain memberikan kontribusi laba yang signifikan, Aster juga memperluas rantai nilai bisnis Chandra Asri. Perseroan sebelumnya telah menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso sehingga kini memiliki integrasi dari kilang, petrokimia hingga distribusi dan penjualan ritel energi. 

Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menangkap sinergi di sepanjang rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.

Diversifikasi bisnis juga diperkuat melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Proyek senilai USD800 juta yang dikembangkan bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. 
Fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton ethylene dichloride per tahun.

Nizam menilai proyek CA-EDC berpotensi menjadi mesin pertumbuhan berikutnya bagi Chandra Asri. Produk soda kaustik akan menyasar kebutuhan industri domestik, termasuk sektor deterjen, alumina, dan pengolahan nikel, sementara EDC akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri PVC global.

Di sisi lain, bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga mulai memainkan peran strategis dalam ekosistem perusahaan. 

Unit usaha ini mengelola bisnis energi, air industri, pelabuhan, penyimpanan, dan logistik yang mendukung operasional internal maupun pihak ketiga. Kehadiran bisnis infrastruktur memperkuat integrasi operasional sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia yang cenderung siklikal.

Dari sisi fundamental, Verdhana melihat posisi Chandra Asri saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu. Total aset perusahaan melonjak menjadi USD12,5 miliar pada kuartal I-2026 dari sekitar USD5,7 miliar pada 2024. 

Ekuitas juga meningkat menjadi USD4,86 miliar, sementara laba bersih kuartalan mencapai USD205 juta. Perseroan juga mencatat margin EBIT sebesar 19,5% dan interest coverage ratio sebesar 6,89 kali, mencerminkan kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban keuangannya.

Verdhana memperkirakan tren positif masih berlanjut seiring kuatnya margin kilang di Singapura. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global membuat crack spread diperkirakan tetap berada di atas USD10 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan level historis sebelum konflik yang berada di bawah USD5 per barel. Kondisi ini diyakini akan mempercepat pengembalian investasi Aster sekaligus memperbaiki struktur utang perusahaan.

Selain transformasi operasional, daya tarik saham TPIA juga meningkat dari sisi pasar modal. Free float perseroan kini mencapai 25,7%, naik signifikan dari sekitar 10% sebelumnya setelah SCG Chemicals melakukan penyesuaian kepemilikan saham sebagai bagian dari strategi deleveraging.

Meski demikian, Verdhana menegaskan perubahan tersebut tidak memengaruhi arah strategis maupun pengendalian perusahaan karena tiga pemegang saham utama, yakni Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil, masih menguasai sekitar 74,3% saham TPIA.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya