7 Fakta Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Harga Pasar, Pertamax Bisa Turun Lagi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Sabtu 20 Juni 2026 07:01 WIB
6 Fakta Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Harga Pasar, Pertamax Bisa Turun Lagi (Foto: Pertamina Patra Niaga)
Share :

JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga memastikan penetapan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax series pada 10 Juni 2026 sudah mengacu pada mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Tercatat, harga Pertamax naik Rp3.950 menjadi Rp16.250 per liter dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Kemudian, harga Pertamax Green juga naik Rp4.100 menjadi Rp17.000 per liter dari harga sebelumnya Rp12.900 per liter.

Di sisi lain, Kementerian ESDM memberi sinyal harga BBM nonsubsidi akan kembali turun jika harga minyak dunia turun. 

Sebagai gambaran saja, pada perdagangan Jumat 19 Juni 2026, mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 54 sen atau 0,68 persen menjadi USD78,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 46 sen atau 0,6 persen menjadi USD76,14 per barel.

Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta harga BBM nonsubsidi mengikuti harga pasar, Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

1. Harga Pertamax Ikuti Harga Pasar

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, penjelasan penetapan dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini sejalan dengan informasi yang telah disampaikan pemerintah bahwa Pertamax series merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai formula yang berlaku. 

Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar ditetapkan pemerintah tidak ada perubahan.

"BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi," ujar Roberth di Jakarta.

2. Evaluasi Harga BBM Nonsubsidi

Roberth menjelaskan bahwa secara normal evaluasi harga BBM non subsidi dilakukan secara berkala. Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. 

"Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.

 

3. Harga Pertamax Tetap Pertimbangkan Kondisi Masyarakat

Di tengah kondisi dan dinamika global di mana harga minyak dunia beranjak naik dampak kondisi geopolitik, Pemerintah senantiasa menjaga harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax series selalu stabil dengan tidak mengalami kenaikan.

Kenaikan harga yang dilakukan pada bulan Juni untuk BBM jenis Pertamax mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional, dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di dalam negeri. 

4. Harga Pertamax Lebih Murah 50 Persen

Penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan saat ini adalah 50% dari selisih harga pasar, dan jika dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga Asean tetap lebih kompetitif agar menjaga daya beli dan perekonomian. 

“Pertamina Patra Niaga terus berkomitmen menjalankan penugasan pemerintah sekaligus menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat," katanya.

5. ESDM Beri Sinyal Harga BBM Nonsubsidi Turun

Kementerian ESDM bicara terkait potensi penurunan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan, harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dunia sebagai bahan baku utama.

“Apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun,” kata Anggia saat konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, pemerintah harus menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dan keberlangsungan pasokan BBM di dalam negeri.

Karena itu, ketika harga minyak global meningkat, badan usaha penyedia BBM perlu melakukan penyesuaian agar distribusi dan ketersediaan bahan bakar tidak terganggu.

“Kalau kita berbicara contoh sederhana nih, bahan bakunya di luar sudah naik, yang dagang enggak bisa menaikkan harga, mau tidak mau kan itu ketersediaan bahan yang dijualnya jadi tidak ada. Jadi ini yang mempertimbangkan,” ujarnya.

 

6. Arahan Prabowo Jaga Harga BBM

Anggia menjelaskan, pemerintah selama ini telah berupaya semaksimal mungkin menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi agar tidak langsung membebani masyarakat dan mengganggu daya beli.

Dia menyebut langkah tersebut dilakukan atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Kalau kita bicara negara-negara di kawasan, tetangga, sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan penyesuaian. Tapi kita tahu di April kemarin sesuai arahan Presiden, pemerintah, Pak Presiden masih mencoba untuk menjaga kestabilan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat,” ungkap Anggia.

7. Diskusi Kenaikan Harga BBM

Menurutnya, pemerintah bahkan sempat melakukan berbagai pembahasan dengan badan usaha milik negara maupun swasta untuk mempertahankan harga Pertamax meskipun tekanan harga minyak dunia terus meningkat.

“Makanya sempat ada diskusi dengan badan usaha baik itu BUMN ataupun badan usaha swasta untuk mempertahankan harga BBM nonsubsidi dalam hal ini Pertamax. Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya,” jelas dia. 

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya