Dari sentimen eksternal, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang mengganggu jalur logistik energi global di Selat Hormuz sehingga memicu kenaikan harga minyak mentah.
Ibrahim menjelaskan bahwa berdasarkan informasi terkini, intensitas lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz tercatat mengalami penurunan.
Di saat yang sama, arus navigasi melalui Selat Bab el-Mandeb turut melambat menyusul serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak milik Arab Saudi.
Ancaman inflasi energi global akibat gangguan jalur perdagangan laut ini turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.
"Pasar sekarang melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada September, sementara pada pertemuan 28-29 Juli, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah," pungkas Ibrahim.
(Feby Novalius)