Kemudian, sektor apa yang paling terdampak? Berdasarkan historis dalam 10 tahun terakhir, ketika rupiah melemah, kenaikan harga bahan baku membuat beberapa industri memilih mengurangi produksi. Industri tekstil, misalnya, sempat menghadapi kenaikan harga bahan baku hingga 70 persen sehingga sebagian pelaku usaha enggan meningkatkan produksi. Startup juga terdampak karena ketika suku bunga naik, bunga pinjaman ikut meningkat sehingga mereka menahan ekspansi. Sektor properti dan otomotif pun menghadapi tantangan serupa karena kenaikan suku bunga meningkatkan beban cicilan konsumen.
Sementara itu, dari sisi perbankan, dampaknya dinilai relatif lebih terbatas karena perbankan memiliki cadangan modal yang besar dan lebih fleksibel dalam mengelola risiko. Di sisi lain, sektor komoditas justru berpotensi diuntungkan karena permintaan terhadap komoditas cenderung meningkat ketika terjadi inflasi akibat ekspansi ekonomi.
Menurutnya, penyebab inflasi di setiap wilayah Indonesia juga berbeda. Di Sumatera, inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh kelompok volatile food, harga BBM, tarif angkutan, dan harga rokok. Di Jawa, inflasi banyak dipengaruhi biaya pendidikan serta meningkatnya permintaan terhadap emas. Sementara di Indonesia Timur, biaya logistik menjadi faktor utama pendorong inflasi.
"Kalau dilihat, penanganan inflasi dari bawah sampai atas itu beragam. Artinya, pengendalian inflasi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan suku bunga," ujarnya.
(Feby Novalius)