JAKARTA - Investor ritel kini mulai dapat memanfaatkan asisten kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menganalisis portofolio investasi, melakukan riset pasar, hingga mendukung proses pengambilan keputusan investasi melalui percakapan digital.
Teknologi tersebut saat ini masih dalam tahap uji coba terbatas (beta) untuk pengguna tertentu. Pengembangannya bertujuan mengintegrasikan kemampuan analisis berbasis AI dengan aktivitas investasi dalam satu antarmuka percakapan.
Menurut Director of Marketing & Commercial Pluang Andreas Agung Hendrawan, perkembangan teknologi AI membuka peluang bagi investor ritel untuk memperoleh akses terhadap alat analisis yang sebelumnya lebih banyak digunakan oleh kalangan profesional.
"Selama ini, analisis investasi berkualitas tinggi hanya menjadi hak istimewa segelintir orang, seperti mereka yang berada di institusi finansial profesional atau memiliki akses terhadap riset berbayar. Teknologi ini membuka peluang agar lebih banyak investor dapat memanfaatkan kemampuan analisis berbasis AI," ujar Andreas, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, pemanfaatan AI dalam investasi dapat membantu pengguna membaca informasi pasar, merangkum laporan keuangan, menganalisis portofolio, hingga memperoleh informasi berdasarkan data yang tersedia. Namun, keputusan akhir investasi tetap berada di tangan pengguna.
"Tujuan utamanya adalah membantu investor dalam proses pengambilan keputusan. AI dapat memberikan analisis, tetapi pengguna tetap menjadi pihak yang menentukan tindakan investasi," katanya.
Dalam penerapannya, sistem tersebut menggunakan mekanisme konfirmasi sebelum transaksi dilakukan. AI memberikan usulan berdasarkan instruksi pengguna, kemudian transaksi hanya dapat dijalankan setelah mendapat persetujuan.
Berbeda dengan sistem robot trading otomatis, teknologi ini tidak melakukan transaksi secara mandiri dan tidak memberikan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu melakukan riset tambahan serta memahami risiko dari setiap keputusan investasi.
Selain itu, Co-Founder Pluang Claudia Kolonas mengatakan, tantangan utama dalam pengembangan teknologi AI untuk investasi adalah memastikan sistem keamanan tetap berjalan ketika teknologi tersebut digunakan untuk membantu aktivitas transaksi.
"Tantangan terbesarnya bukan hanya bagaimana membuat AI bisa memasang order, melainkan bagaimana membangun sistem pengaman agar AI tidak melakukan transaksi yang salah atau tanpa izin," jelas Claudia.
Menurutnya, aspek keamanan perlu menjadi bagian dari infrastruktur teknologi agar pengguna tetap memiliki kendali terhadap setiap aktivitas investasi.
Melalui integrasi AI, investor dapat memperoleh sejumlah bantuan seperti melihat ringkasan portofolio, memantau aset, mengakses data pasar, menguji strategi berdasarkan data historis, hingga merangkum informasi investasi melalui percakapan digital.
Adapun aset yang dapat dianalisis mencakup saham Amerika Serikat, saham Indonesia, emas, aset kripto.
(Feby Novalius)