JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut bahwa para pemegang saham menyambut baik rencana demutualisasi Bursa.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan respon positif diberikan setelah BEI berkomunikasi dengan para pemegang saham terkait rencana perubahan struktur kepemilikan Bursa pada akhir Juli 2026.
"Pada kesempatan itu, kami mendapatkan respons positif dari pemegang saham Bursa saat ini terkait dengan rencana demutualisasi," kata Jeffrey dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 2026 yang digelar secara virtual pada Rabu (12/8/2026).
Jeffrey menyebut BEI merupakan salah satu Bursa besar di dunia yang hingga kini belum melakukan demutualisasi. Karena itu, rencana tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing BEI.
"Karena tentu kita semua sepakat bahwa dari sekian banyak Bursa besar di dunia, Bursa Efek Indonesia adalah salah satu Bursa yang belum melakukan demutualisasi," sebut Jeffrey.
Menurutnya, demutualisasi diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi BEI, terutama dalam meningkatkan fleksibilitas dan daya saing Bursa di tingkat global.
"Tentu dengan demutualisasi ini, kita optimis Bursa Efek Indonesia akan menjadi lebih modern, akan menjadi lebih lincah, dan akan punya daya saing yang lebih tinggi di tingkat global," ucapnya.
Meski demikian, Jeffrey menegaskan belum ada keputusan yang diambil pemegang saham terkait rencana demutualisasi dalam RUPSLB kali ini. Dalam agenda kedua RUPSLB, BEI hanya menyampaikan perkembangan rencana tersebut kepada para pemegang saham.
"Di dalam agenda kedua itu tidak dilakukan pengambilan keputusan. Jadi kami menginformasikan kepada para pemegang saham terkait dengan progres dari rencana demutualisasi Bursa Efek," jelasnya.
(Taufik Fajar)