Bahan baku daun kelor muda dan segar diambil langsung dari pekarangan rumah warga untuk memastikan kualitas produk tetap berwarna hijau alami sekaligus memberdayakan perekonomian warga desa.
Bahkan, omzet UMKM tersebut telah mencapai lebih dari Rp50 juta per bulan dan ikut memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli desa.
Kepala Desa Pondok Kelor Fredericks Ade Candra mengapresiasi pendampingan yang diberikan POMI. Menurutnya, dukungan tersebut telah memberikan perubahan nyata bagi masyarakat desa sejak program dimulai pada 2022.
“Berawal dari minuman kunyit asam (Pelka), support POMI memang luar biasa, dari penyediaan alat, kemudian kita dibuatkan galeri,” kata Fredericks.
Dia menceritakan, pada 2022, tanaman kelor justru sudah jarang ditemukan di desa yang menggunakan nama tersebut.
Pemerintah desa kemudian mendorong penanaman kembali kelor. Setiap tahun sekitar 1.000 bibit ditanam hingga kini jumlahnya mencapai sekitar 3.000 pohon. Warga juga didorong menerapkan konsep satu rumah satu pohon kelor.
Ia menilai dukungan POMI tidak berhenti pada pemberian bantuan. Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan membuat berbagai fasilitas dan program yang diberikan dapat berkembang dan dimanfaatkan masyarakat.
“Nyata dari 2022 kita kerja sampai 2026 memang wujudnya ada, enggak dikasih terus terbengkalai. Kita dikasih malah berkembang,” ujarnya.
Kini, produk UMKM Desa Pondok Kelor juga mulai menjadi pilihan ketika desa menerima kunjungan tamu. Hal tersebut menunjukkan bahwa produk lokal mulai memiliki tempat sekaligus menjadi bagian dari identitas desa.
"Kita juga ada pendampingan dari POMI. Sekarang kalau ada tamu, pesanannya dari Desa Pondok Kelor,” kata Fredericks.
Ke depan, Pemerintah Desa Pondok Kelor juga mulai membidik pasar ekspor untuk produk kelor. Namun, Fredericks menyadari masih terdapat sejumlah tahapan yang harus dipenuhi, terutama terkait sertifikasi dan kesiapan standar produk.
“Kita juga merencanakan ekspor, bagaimana mengekspor kelor. Tapi ke arah sana berat, perlu banyak sertifikasi yang harus disiapkan. Pelan-pelan step ke sana,” ujarnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pemberdayaan masyarakat Pondok Kelor. Dari produk sederhana berupa kunyit asam, masyarakat kini mulai membangun ekosistem usaha berbasis potensi lokal, dengan kelor sebagai salah satu identitas sekaligus sumber peluang ekonomi baru.
Bagi POMI, keberhasilan program TJSL bukan sekadar seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi sejauh mana masyarakat mampu mengelola potensi secara mandiri, membangun usaha yang berkelanjutan, dan menciptakan manfaat ekonomi bagi desa.