Sementara itu, program berikutnya berada di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, melalui pengembangan Pantai Greenthing menjadi kawasan ekowisata berbasis konservasi mangrove.
Kepala Desa Randutatah Suham mengatakan kawasan tersebut memiliki sejarah panjang dengan abrasi. Pada era 1960-an, terdapat sebuah dusun bernama Greenthing yang akhirnya hilang akibat abrasi.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat, khususnya pemuda desa, melakukan penanaman mangrove sejak 2005. Saat ini kawasan tersebut memiliki sekitar 5 hektare tanaman mangrove.
“Kalau dulu tahun 2005 tidak kita tanam mangrove, pasti bisa habis nih sampai permukiman masyarakat,” ujar Suham di Pantai Greenthing.
Paiton Energy dan POMI kemudian memberikan dukungan terhadap pengembangan kawasan tersebut. Salah satunya melalui penanaman 3.000 batang mangrove pada September 2022.
Dukungan juga diberikan dalam bentuk fasilitas operasional, seperti satu unit perahu fiber berkapasitas tujuh orang untuk menyusuri sungai mangrove sepanjang sekitar 800 meter, gerobak sampah, serta meja dan kursi pantai.
Pengelolaan ekowisata dilakukan oleh BUMDes Duta Bahari. Kawasan mangrove dilengkapi jembatan bambu sehingga wisatawan dapat menikmati kawasan konservasi tanpa merusak akar mangrove. Pengembangan tersebut kemudian menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
Greenthing Beach & Mangrove Forest mencatatkan omzet Rp409,04 juta pada 2025, melampaui target yang ditetapkan. Kawasan tersebut juga membuka peluang usaha bagi masyarakat melalui UMKM kuliner dan penjualan hasil laut.
Suham mengatakan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam pengelolaan kawasan meningkat dari sekitar lima orang menjadi 15 orang. Omzet yang sebelumnya sekitar Rp1 juta juga berkembang hingga sekitar Rp25 juta.
Pengembangan kawasan tidak hanya mengandalkan potensi alam. Tradisi masyarakat Randutatah dalam mencari kerang juga diangkat menjadi bagian dari atraksi wisata melalui Tari Rangkarang.
Dengan demikian, pengembangan Greenthing menggabungkan konservasi mangrove, pariwisata, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian budaya lokal.
(Feby Novalius)