"Geotermal dalam pandangan saya tidak hanya pada konteks bagaimana kita meningkatkan kemampuan listrik kita di sektor geotermal. Tapi juga bagaimana kita mampu melakukan konversi untuk melahirkan ekonomi yang lain," ujarnya.
Ia mencontohkan pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung pengeringan kopi dan berbagai kegiatan industri lainnya. Dengan demikian, pengembangan geothermal diharapkan tidak berhenti pada penyediaan listrik, tetapi turut menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
Bahlil menilai percepatan pengembangan geothermal membutuhkan dukungan teknologi dan pembiayaan yang memadai. Tanpa inovasi teknologi, kata dia, energi panas bumi akan sulit berkembang secara kompetitif. Pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah terobosan untuk meningkatkan daya tarik investasi geothermal. Salah satunya melalui pemberian insentif pajak.
Selain insentif, Bahlil menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator dan pelaku usaha. Menurut dia, percepatan geothermal tidak akan berhasil apabila kedua pihak berjalan sendiri-sendiri.
Di sisi lain, Bahlil meminta para pemegang konsesi geothermal agar segera merealisasikan proyek yang telah mendapatkan izin. Pemerintah, kata dia, tidak ingin konsesi yang sudah diberikan justru tertahan dan menghambat pemanfaatan potensi panas bumi nasional.
Bahlil juga meminta proyek-proyek geothermal yang akan dikembangkan melibatkan pemerintah daerah sejak tahap awal. Koordinasi tersebut dinilai penting agar pembangunan dapat berjalan lebih lancar dan memperoleh dukungan daerah.