JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan energi panas bumi atau geothermal dapat menyumbang sekitar 15 persen terhadap bauran energi nasional pada 2050. Target tersebut dinilai realistis mengingat Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi yang sangat besar.
Bahlil menyebut potensi panas bumi di Indonesia mencapai 27-30 gigawatt (GW). Besarnya potensi tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan sumber daya geothermal terbesar di dunia.
Adapun hingga saat ini, kapasitas terpasang baru mencapai 2.776 megawatt (MW), atau setara 11,6 persen dari potensi panas bumi yang ada. Sehingga, masih terdapat potensi panas bumi yang belum tergali, sekitar 88,4 persen dari potensi yang ada.
"Yang kita pingin untuk bauran energi, Bu Enia (Dirjen EBTKE), targetkan aja lah sampai dengan 2050. Itu minimal, itu 15 persen dari total energi nasional kita," kata Bahlil dalam acara IIGCE 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Namun, dari sisi pemanfaatan, Indonesia masih berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat. Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pengembangan panas bumi agar potensi yang dimiliki dapat dikonversi menjadi energi dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Menurut Bahlil, pengembangan geothermal tidak boleh hanya dilihat dari sisi peningkatan kapasitas pembangkit listrik. Pemanfaatan panas bumi juga harus mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian, termasuk membuka lapangan kerja dan mendorong industri di sekitar wilayah pengembangan.