JAKARTA - Aktivitas kapal dan nelayan di laut hingga kegiatan masyarakat di daratan ternyata menjadi tantangan dalam menjaga jalur pipa gas. Infrastruktur yang sebagian besar tidak terlihat itu membentang di bawah laut hingga kawasan di sekitar jalur tol dan harus terus dipantau untuk memastikan penyaluran gas berjalan aman.
Di bawah permukaan laut, pipa gas berada di tengah aktivitas kapal dan nelayan. Sementara di daratan, jalurnya bersinggungan dengan persawahan, permukiman, hingga aktivitas masyarakat.
Pipa gas bawah laut yang merupakan bagian dari jaringan infrastruktur gas yang telah dibangun sejak 1995. Salah satu jalurnya bermula dari lapangan gas di Pulau Pagerungan, Kepulauan Kangean, kemudian dialirkan menuju Onshore Receiving Facility (ORF) Porong sebelum diteruskan kepada industri.
Seiring berkembangnya kebutuhan gas, jaringan tersebut terintegrasi dengan sejumlah sumber pasokan dan industri. Dari fasilitas offshore menuju ORF, aliran gas mencapai sekitar 400-450 MMSCFD dengan tekanan pipa sekitar 600-700 psi.
Supervisor Maintenance Distrik Gresik Pertagas OEJA, Muhammad Maura Gomez, mengatakan aktivitas kapal dan nelayan menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keamanan pipa gas bawah laut.
“Tantangan pipa bawah laut adalah aktivitas kapal dan nelayan. Karena itu, kami melakukan patroli dan perawatan secara berkala, termasuk memastikan lampu penanda tetap berfungsi,” ujar Maura, Rabu (26/8/2026).
Kedalaman pipa bawah laut juga bervariasi. Di sejumlah lokasi, terutama ketika mendekati pulau, pipa berada pada kedalaman sekitar 3-5 meter. Sementara di bagian lain, kedalamannya dapat mencapai sekitar 60 meter.
Kondisi tersebut membuat pengawasan terhadap jalur pipa harus dilakukan secara berkala. Selain patroli, Pertagas melakukan perawatan terhadap fasilitas pendukung, termasuk lampu penanda yang membantu nelayan mengetahui keberadaan jalur pipa.
Pengamanan juga dilakukan melalui koordinasi dengan aparat terkait. Hal ini penting karena jaringan pipa merupakan objek vital yang harus dilindungi dari berbagai potensi gangguan, termasuk risiko jangkar kapal yang dapat mengenai jalur pipa.
Dari Laut hingga Pinggir Tol
Tantangan menjaga pipa tidak berhenti ketika jalurnya keluar dari laut. Di daratan, jaringan pipa juga membentang di sekitar kawasan Tol Surabaya-Gresik.
Di kawasan ini, Pertagas harus memastikan jalur pipa tetap aman di tengah aktivitas masyarakat yang terus berkembang. Pengecekan dilakukan secara rutin oleh tim pipeline checker.
Mereka menyusuri jalur pipa di berbagai wilayah, mulai dari persawahan hingga kawasan permukiman.
Pemeriksaan dilakukan menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki. Tim memastikan kondisi jalur tetap aman sekaligus memantau aktivitas masyarakat yang berpotensi mengganggu keberadaan pipa.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembakaran sampah, pembangunan bangunan tanpa izin, hingga aktivitas usaha seperti warung di sekitar jalur pipa.
Aktivitas tersebut perlu dicegah karena dapat mengganggu keamanan jalur pipa dan meningkatkan risiko terhadap infrastruktur penyaluran gas.
“Kami juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat membahayakan jalur pipa, seperti membakar sampah atau mendirikan bangunan di area jalur pipa,” kata Maura.
Menurut Maura, pengawasan jalur pipa tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas di lapangan. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan melaporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan jaringan.
Pertagas menyediakan kanal pengaduan bagi masyarakat yang menemukan indikasi kebocoran, kebakaran, atau gangguan lainnya di sekitar jalur pipa. Laporan tersebut selanjutnya dapat ditindaklanjuti oleh tim terkait.
Di sisi lain, kondisi jaringan juga dipantau melalui ruang kendali. Sistem tersebut memungkinkan kondisi jaringan dipantau sehingga potensi gangguan dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti sesuai prosedur.
Jaringan pipa yang membentang dari dasar laut hingga daratan itu pada akhirnya bukan sekadar infrastruktur yang tersembunyi dari pandangan.
Di balik pipa tersebut terdapat sistem pengawasan, pemeliharaan, patroli, hingga koordinasi yang harus berjalan terus-menerus.
Bagi masyarakat, keberadaan pipa gas mungkin tidak selalu terlihat. Namun, jalur tersebut menjadi bagian dari rantai distribusi energi yang memasok kebutuhan sejumlah konsumen.
Karena itu, menjaga keamanan pipa gas tidak hanya bergantung pada petugas Pertagas. Kesadaran nelayan, operator kapal, dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar jalur pipa juga menjadi bagian penting untuk memastikan infrastruktur tersebut tetap aman dan penyaluran gas terus berjalan.
(Feby Novalius)