Pemerintah Siapkan Insentif Pajak hingga Kredit ke Industri Furnitur

Rohman Wibowo, Jurnalis
Minggu 27 September 2026 12:52 WIB
Menko Airlangga (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Pemerintah mengantisipasi rambatan ketidakpastian ekonomi global dengan memperkokoh ketahanan ekonomi domestik, menjaga stabilitas harga, serta mendongkrak daya saing sektor industri manufaktur.

Sektor industri pengolahan saat ini tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional lewat kontribusi sebesar 18,50 persen dan mencatatkan pertumbuhan 4,52 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Sejumlah subsektor manufaktur bahkan tumbuh impresif, dipimpin oleh industri pengolahan lainnya sebesar 12,22 persen serta industri furnitur yang melesat 11,82 persen.

“Penyelenggaraan event internasional menjadi penting sebagai salah satu bentuk sarana memitigasi risiko dengan jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (27/9/2026).

Indonesia dinilai mengantongi potensi besar untuk memperluas penetrasi pasar furnitur global melalui peningkatan mutu, desain, aspek keberlanjutan, promosi dagang terpadu, hingga perluasan jejaring kemitraan dengan pembeli internasional. Kinerja neraca perdagangan industri furnitur nasional pun konsisten mencatatkan surplus sejak 2021.

Sepanjang 2025, nilai ekspor mebel Indonesia menembus USD2.390,68 juta berbanding nilai impor sebesar USD1.917,37 juta, sehingga menghasilkan surplus perdagangan senilai USD473,31 juta. 

Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-25 sebagai eksportir furnitur global pada 2025 dengan pangsa pasar 0,77 persen, dengan Amerika Serikat sebagai pasar tujuan utama yang menyerap sekitar 60 persen dari total pengapalan.

Airlangga menekankan bahwa aspek rancang bangun furnitur tanah air harus terus dikembangkan agar selaras dengan dinamika selera konsumen internasional. Saat ini, arah permintaan pasar dunia bergeser ke produk yang mengedepankan fungsionalitas, kemudahan kustomisasi, serta pemanfaatan material yang ramah lingkungan.

 

Kekayaan bahan baku kayu dan rotan lokal menjadi keunggulan komparatif tersendiri dalam merespons preferensi tersebut. Pada 2024, volume produksi kayu bulat nasional menyentuh 57,46 juta meter kubik, dengan sekitar 20 persen di antaranya dialokasikan sebagai pasokan industri pengolahan kayu domestik, sementara Indonesia juga menguasai lebih dari 80 persen pasokan rotan dunia.

“Struktur industri nasional saat ini masih didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM), hampir 99,79% dari total 4,45 juta unit usaha industri dan serapannya 65,52% dari tenaga kerja industri. Dengan skala ini, industri tentu masih menghadapi tantangan keterbatasan teknologi, serta terkait produktivitas yang masih dapat ditingkatkan. Dari sisi pasar, pelaku industri juga perlu menyesuaikan diri dengan standar dan regulasi serta selera di negara tujuan,” ujar Airlangga.

Merespons tantangan tersebut, pemerintah menggelontorkan dukungan fiskal bagi industri furnitur, salah satunya lewat fasilitas insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi para pekerja yang memenuhi kriteria, serta relaksasi pembiayaan melalui skema Kredit Industri Padat Karya.

Penguatan daya saing turut disuntikkan lewat program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi untuk memacu efisiensi maupun produktivitas pabrik, disertai fasilitasi promosi dagang guna memperluas penetrasi ekspor.

Di samping itu, untuk mengamankan nilai tambah di dalam negeri, arah kebijakan difokuskan pada pengendalian ekspor bahan mentah kayu bulat, penegakan standar mutu dan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), hingga penerapan prinsip industri hijau agar manfaat ekonominya dapat dinikmati langsung oleh seluruh rantai industri furnitur, termasuk pelaku IKM.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya