Dari total modal yang terealisasi tersebut, penanaman modal asing (PMA) masih mendominasi dengan kontribusi mencapai Rp212,8 triliun atau 70,9 persen, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) membukukan porsi Rp87,3 triliun atau 29,1 persen.
Kinerja investasi tersebut memperlihatkan kemajuan signifikan yang dicapai Indonesia dalam menumbuhkan industri hilirnya, sekaligus membuka peluang lebar untuk mengokohkan posisi tawar di dalam rantai nilai mineral kritis dunia.
Agenda berikutnya adalah merawat iklim pasar yang kompetitif, mempertebal daya tarik permodalan jangka panjang, serta memastikan barang hasil olahan domestik sanggup memenuhi dinamika kebutuhan pembeli internasional.
Heldy menambahkan, kucuran investasi yang sedemikian besar telah menggeser wacana hilirisasi dari sebatas pembangunan fasilitas fisik menuju strategi memproduksi barang yang berdaya saing dan terkoneksi dengan pasar internasional.
Pada ekosistem mineral kritis, persoalan krusial kini merambah asal-usul bahan baku, efisiensi biaya pengolahan, formulasi harga produk, kepastian penyerapan oleh pembeli atau offtaker, hingga standar kualifikasi untuk menembus pasar luar negeri.