JAKARTA — Indonesia dinilai perlu memperbanyak pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) untuk meningkatkan pasokan listrik berbasis energi dengan emisi lebih rendah. Salah satu pengembangan adalah PLTP Gunung Ungaran yang berpotensi membantu menekan emisi sektor ketenagalistrikan.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Yoga Aribowo, mengatakan emisi karbon dioksida (CO2) dari PLTP berada di kisaran 100 gram per kilowatt hour (kWh), jauh lebih rendah dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara yang mencapai sekitar 900 gram per kWh.
"Semakin banyak porsi PLTP menggantikan PLTU, akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air," kata Yoga, Kamis (1/10/2026).
Dengan rencana kapasitas sekitar 55 megawatt (MW), Yoga menilai PLTP Gunung Ungaran dapat menambah pasokan listrik berbasis panas bumi sekaligus meningkatkan porsi energi dengan emisi lebih rendah dalam sistem ketenagalistrikan.
Menurut Yoga, pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga tidak membutuhkan air dalam jumlah besar setelah pembangkit mulai beroperasi. Kebutuhan air pada tahap operasi, kata dia, lebih banyak digunakan untuk kebutuhan domestik dan operasional fasilitas.