“Kita melihat ada beberapa kegiatan. Yang pertama adalah kita membantu memberdayakan masyarakat untuk bisa mengelola sampah. Kemudian yang kedua adalah bagaimana masyarakat di sini bisa membantu melayani wisatawan dengan baik,” ujar Arya.
Selain pelatihan hospitality dan bahasa Inggris, Pertamina juga membantu masyarakat mengembangkan pengelolaan sampah melalui bank sampah. Sampah anorganik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti kerajinan dan tas, sementara sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk.
Pertamina juga mendukung pengumpulan sampah dengan menyediakan sepeda motor listrik. Kendaraan tersebut mendapat pasokan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang terpasang di Balai Desa Kuta, serta rumah baterai berkapasitas 20 kWh yang berfungsi sebagai sumber pengisian daya. Program tersebut menjadi bagian dari Desa Energi Berdikari Pertamina yang menggabungkan edukasi mengenai potensi energi, pemanfaatan energi, hingga pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat berbasis energi bersih.
Arya berharap berbagai program tersebut dapat membuat manfaat Pertamina Grand Prix Of Indonesia tidak berhenti ketika balapan selesai. Sebab, menurutnya, wisatawan tidak hanya datang ketika event berlangsung, tetapi juga berkunjung ke Mandalika sepanjang tahun.
“Event tahunan ini tidak setiap hari, tapi turis yang datang ke sini kan setiap hari. Artinya mereka juga bisa mengelola itu menjadi hal yang menarik. Nah, ini yang tentunya kita latih dan kita edukasi sekarang,” tuturnya.
Salah satu pemilik homestay, Bani, mengatakan peningkatan permintaan kamar mulai terasa dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah tren pariwisata yang biasanya mulai menurun pada Oktober. Menurutnya, kehadiran Pertamina Grand Prix Of Indonesia membuat tingkat hunian homestay di Kuta dan sekitarnya justru meningkat signifikan.