JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Hal ini akibat kepungan sentimen global dan tekanan biaya pengadaan energi domestik.
Pelaku pasar valuta asing cenderung mengambil posisi defensif menjelang publikasi indikator inflasi utama AS serta evaluasi berkala pasar modal dalam negeri.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap prospek kenaikan inflasi di Amerika Serikat serta beban devisa impor minyak yang kian membengkak," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Fokus pasar keuangan internasional saat ini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang masing-masing dijadwalkan meluncur pada hari Rabu dan Kamis.
Konsensus memproyeksikan CPI utama September melonjak 0,6 persen secara bulanan (month-on-month/MoM), naik dari realisasi Agustus sebesar 0,4 persen, sementara inflasi tahunan diperkirakan terkerek menuju 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen.
Kekhawatiran pasar global kian menguat menyusul ekspektasi lonjakan harga konsumen yang diprediksi mendorong bank sentral AS mempertahankan sikap moneter ketat. Agenda pertemuan lembaga keuangan internasional di kawasan Asia Tenggara pada akhir pekan ini pun dinilai bakal menjadi penentu arah pergerakan mata uang dunia.