"Selain antisipasi pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Bangkok, sentimen negatif dari dalam negeri datang dari ancaman perpanjangan pembekuan indeks MSCI pada November mendatang. Isu konsentrasi kepemilikan saham atau High Shareholding
Concentration dinilai mengaburkan pembentukan harga riil di Bursa Efek Indonesia sehingga menahan arus masuk modal asing," tutur Ibrahim.
Kajian dari penyedia indeks global Morgan Stanley (MSCI) tersebut menyoroti transparansi pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dinilai belum optimal akibat fenomena kepemilikan saham yang terpusat. Kondisi tersebut membuat pasar berspekulasi bahwa status pembekuan (freeze) masih akan diberlakukan pada peninjauan edisi November, sehingga membatasi likuiditas asing yang masuk ke instrumen portofolio domestik.
Di sektor riil, tekanan eksternal membayangi ketahanan neraca perdagangan seiring berlanjutnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang memperketat pasokan energi dunia. Keterbatasan kargo pengapalan dan lonjakan premi logistik membuat upaya pengalihan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu singkat menghadapi tantangan berat, di tengah kompetisi negara-negara dunia dalam mengamankan kuota minyak mentah.
Pembengkakan biaya pengadaan komoditas energi tersebut kian diperparah oleh ketatnya rantai pasok global dan perebutan kargo minyak mentah antarnegara. Langkah diversifikasi negara mitra dagang menuntut perhitungan fiskal yang cermat agar neraca pembayaran nasional tidak tertekan secara berlebihan.
"Upaya pengalihan impor BBM ke negara seperti Afrika, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Mesir, hingga Eropa memerlukan kalkulasi cermat terkait harga beli dan beban subsidi APBN. Pertamina bersama pemerintah harus memperhitungkan seluruh konsekuensi biaya pengadaan ini karena lonjakan permintaan dolar AS untuk impor berisiko semakin memberatkan kurs rupiah,"
urai Ibrahim.
(Taufik Fajar)