Rupiah Hari Ini Diproyeksikan Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Tertekan Inflasi AS hingga Melebarnya Defisit Transaksi Berjalan

Rohman Wibowo, Jurnalis
Kamis 15 Oktober 2026 08:06 WIB
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
Share :

Di tengah ketidakpastian global tersebut, IMF sejatinya mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dari estimasi Juli sebesar 5,0 persen menjadi 5,1 persen dalam laporan edisi Oktober. Namun, revisi kenaikan tersebut diimbangi oleh peringatan mengenai laju inflasi domestik yang berpotensi terkerek hingga menyentuh 3,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

"Meskipun IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2027 di angka 5,1 persen, kenaikan inflasi domestik ke 3,3 persen berisiko menahan daya beli masyarakat. Sentimen negatif bagi rupiah kian nyata karena defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar hingga 1,6 persen terhadap PDB pada tahun ini," kata Ibrahim.

Prospek defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sebesar 1,6 persen PDB tersebut melonjak tajam dibanding realisasi 2025 yang hanya 0,1 persen PDB, sebelum diprakirakan baru ternormalisasi ke posisi 1 persen PDB pada 2027. 

Perkiraan defisit versi IMF ini bahkan melampaui proyeksi Bank Indonesia (BI) yang mematok kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen terhadap PDB.

Di sisi lain, pemerintah mempertahankan target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sepanjang 2026, yakni sebesar 5,4 persen. Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan di atas 5,5 persen pada kuartal III dan IV masih dapat direalisasikan, didukung capaian semester I/2026 yang menembus 5,45 persen sebagai torehan tertinggi beberapa tahun belakangan usai ekspansi 5,61 persen pada kuartal I/2026.

Kesenjangan antara target ambisius pemerintah dan estimasi lembaga multilateral mencerminkan tingginya kehati-hatian investor dalam menakar ketahanan eksternal tanah air. Kebutuhan valuta asing untuk menutup defisit transaksi berjalan pada akhirnya menjadi beban riil yang membatasi ruang apresiasi nilai tukar di pasar spot.

"Target pertumbuhan pemerintah di atas 5,5 persen pada paruh kedua memang memberi harapan, tetapi pasar tetap mencermati risiko pelebaran defisit neraca eksternal yang melampaui estimasi Bank Indonesia. Kombinasi ketidakpastian moneter The Fed dan lonjakan kebutuhan devisa impor inilah yang menahan laju mata uang garuda sehingga terperosok ke zona merah," urai Ibrahim.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya