JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan reformasi pasar modal Indonesia akan terus berjalan di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 11 persen pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, reformasi pasar modal merupakan agenda yang akan terus dijalankan untuk memperkuat pasar modal domestik. Menurutnya, langkah pembenahan tersebut bukan semata-mata dilakukan untuk merespons tekanan MSCI saja.
"Iya kita terus melakukan reformasi. Kita kan komitmen melakukan reformasi bukan karena satu index global provider. Tapi memang komitmen kita untuk melakukan reformasi yang tadi kita sampaikan," kata Frederica dalam konferensi pers yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI) siang ini.
Ia mengungkapkan, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) tengah menjalankan reformasi yang disebut sebagai terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Agenda pembenahan tersebut telah dimulai sejak awal tahun ini.
"Saat ini OJK dan SRO sedang melakukan reformasi terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Itu sudah kita sampaikan sejak bulan Januari 2026 ini," katanya.
Ia menjelaskan, sejumlah langkah reformasi telah dilakukan untuk menjawab berbagai perhatian dan masukan dari penyedia indeks global, terutama terkait transparansi dan keterbukaan informasi di pasar modal.
Salah satunya melalui peningkatan transparansi kepemilikan saham. OJK menerapkan keterbukaan informasi kepemilikan saham mulai dari 1 persen, lebih rinci dibandingkan ketentuan sebelumnya sebesar 5 persen.
"Semua concern dari global index provider telah kita penuhi dan laksanakan. Termasuk dalam unsur transparansi, kita yang pada umumnya adalah keterbukaan 5 persen, kita 1 persen kita buka," lanjutnya.
Selain itu, OJK juga memperinci klasifikasi investor dari sebelumnya sembilan jenis menjadi 39 jenis. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan transparansi struktur investor di pasar modal Indonesia.
Reformasi lainnya mencakup peningkatan ketentuan saham beredar di publik atau free float yang dilakukan secara bertahap, serta penguatan penegakan aturan atau enforcement.
"Ini semua juga bisa diterima oleh komunitas global investor juga dan juga enforcement," lanjut Frederica.
Adapun, IHSG mengalami tekanan tajam di tengah mencuatnya rencana MSCI yang mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Frederica pun mengajak seluruh pihak untuk tetap optimistis dan mendukung pasar modal Indonesia di tengah tekanan yang terjadi.
"Aku minta dukungan semua. Indonesia harus yakin, buy Indonesia, buy Indonesia, we are all united," tutup Friderica.
(Taufik Fajar)