Sementara itu, Erwin menjelaskan soal motif kedua berorientasi pada pengelolaan likuiditas di pasar uang agar ketersediaan dana perbankan tetap seimbang. Transaksi dua arah di pasar sekunder memberi keleluasaan bagi bank sentral untuk melonggarkan atau mengetatkan pasokan likuiditas sesuai dinamika kapasitas ekonomi riil.
Perhitungan matematis dilakukan secara berkala guna memastikan volume dana yang beredar tidak memicu kekeringan likuiditas maupun ekses inflasi. Pembelian di pasar sekunder menjadi tuas ekspansi moneter yang efektif, sedangkan penjualan instrumen dijalankan saat pasar memerlukan penyerapan kelebihan dana.
"Konteks kedua adalah dalam rangka kita meng-inject liquidity di pasar sekunder jika menurut hitung-hitungan BI memang perlu ditambah. Sebaliknya juga begitu, ketika kita jual, itu dimungkinkan untuk mengkontraksi liquidity," kata Erwin.
(Dani Jumadil Akhir)