"Nah ke depannya, momen 100 tahun ini bukan hanya sebagai momen sejarah, tapi saatnya kita memperlihatkan kepada dunia bahwasannya kita itu bisa menjadi leaders dalam pengembangan panas bumi," katanya.
Untuk mendukung ambisi tersebut, PGE terus mempercepat pengembangan sejumlah proyek strategis, antara lain Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Melalui pengembangan proyek-proyek tersebut, perseroan menargetkan kapasitas terpasang pembangkit panas bumi mencapai 1 GW pada 2028, meningkat dari posisi saat ini sebesar 727 megawatt (MW). Selanjutnya, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
"Target kita tahun 2028 menjadi 1 gigawatt dari 727 megawatt saat ini. Kemudian di tahun 2034 kita akan menjadi 1,8 gigawatt. Nah itu target kita dan pemerintah sendiri melalui Ditjen EBTKE memiliki target. Dalam artian tahun 2030 menjadi nomor satu di dunia," jelasnya.
Ahmad menambahkan, PGE juga memiliki visi untuk menjadikan Indonesia sebagai world geothermal center of excellence atau pusat keunggulan panas bumi dunia. Menurut dia, Indonesia yang memiliki potensi panas bumi sangat besar seharusnya dapat menjadi pusat pengembangan teknologi, pengetahuan, dan industri panas bumi global.