Mediacom Lepas Mobile-8

Koran SI, Jurnalis · Kamis 12 November 2009 08:59 WIB
https: img.okezone.com content 2009 11 12 278 274697 vxXKvwGGpv.jpg Foto: Dok Fren

JAKARTA - PT Global Mediacom Tbk (BMTR) menjual 19 persen atau 3,84 miliar saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) kepada PT Gerbangmas Tunggal Sejahtera yang terafiliasi dengan grup Sinarmas.

Dengan penjualan tersebut, Global Mediacom tidak lagi memiliki saham Mobile-8. Adapun nilai divestasi 19 persen saham Mobile-8 mencapai Rp211,46 miliar atau Rp55 per saham. Direktur Global Mediacom Handhi S Kentjono mengatakan, sejak 2008 perseroan memutuskan secara bertahap keluar dari bidang telekomunikasi untuk fokus pada industri media.

"Dengan penjualan tersebut, Global Mediacom akan dapat lebih mengembangkan anak usahanya melalui anak-anak perusahaan di bidang media," ujar Handhi dalam keterangan tertulis kemarin. Berdasarkan data transaksi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), pelepasan 19 persen saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) di Mobile-8 dilakukan tiga tahap dalam transaksi tutup sendiri.

Dalam transaksi tersebut PT OSK Nusadana Securities (DR) bertindak sebagai broker pembeli, sedangkan PT Bhakti Securities (EP) selaku broker penjual. Transaksi pertama dilakukan pada pukul 15.47.31 waktu Jakarta Automatic Trading System (JATS) sebanyak 2.833.022 lot atau setara 1,41 miliar saham pada harga Rp55 per saham.

Nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp77,9 miliar. Transaksi kedua dilakukan pada pukul 15.47.56 waktu JATS sebanyak 2.023.587 lot atau setara 1,01 miliar saham pada harga Rp55 per unit. Nilai transaksi pelepasan saham itu sebesar Rp55,6 miliar.Adapun transaksi ketiga dilakukan pada pukul 15.50.43 waktu JATS untuk sebanyak 2.833.022 lot atau setara 1,41 miliar saham pada harga Rp55 per saham.Total nilai transaksi ini sebesar Rp77,9 miliar.

Lebih lanjut Handhi mengungkapkan, dengan masuknya investor baru tersebut, pihaknya yakin kinerja Mobile-8 akan semakin baik, didukung oleh pertumbuhan industri telekomunikasi yang semakin menjanjikan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam berkomunikasi. "Ditambah dengan pengembangan produk yang berteknologi maju dan variatif serta kelebihan Mobile-8, maka kami yakin kinerja Mobile-8 ke depan akan semakin baik," katanya.

Sementara itu, pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Mobile-8 kemarin, pemegang saham menyetujui pergantian susunan direksi dan komisaris. Wakil dari investor baru (Gerbangmas) yakni Henry Cratein Suryanaga masuk menjadi presiden komisaris. Henry mengaku masih berniat memperbesar kepemilikan saham di Mobile-8 jika ada kesempatan.

Selain melalui pasar, perusahaan berpeluang membeli saham melalui rencana penjualan saham dari pemegang saham Mobile-8 yang lain,Jerash Investment Ltd. Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengatakan, Gerbangmas berpartisipasi sebagai pemilik minoritas dalam pembelian saham tersebut.

Melalui masuknya investor baru, dia berharap Mobile-8 bisa berkembang. Adapun susunan lengkap dewan komisaris adalah Presiden Komisaris Henry Cratein Suryanaga, Wakil Presiden Komisaris (Independen) Sarwono Kusumaatmadja, Komisaris Independen Reynold M Batubara.

Susunan dewan direksinya, Presiden Direktur Merza Fachys, Direktur Anthony C Kartawiria, Direktur Beydra Yendi, Direktur Agus Heryanto Lukas, dan Direktur Yopie Widjaja. Lebih lanjut Merza mengungkapkan, sebesar 55 persen Mobile-8 telah setuju untuk mengonversi piutang menjadi saham perseroan seri B.

Konversi diharapkan dapat direalisasikan pada akhir 2009. Saat ini total utang perseroan mencapai Rp1,4 triliun yang terdiri atas utang obligasi Rp675 miliar, sisanya utang usaha. Per September 2009 Mobile-8 membukukan rugi bersih sebesar Rp439,9 miliar atau naik dibandingkan periode sama 2008 yang mengalami rugi bersih Rp275,292 miliar.

Perusahaan yang mulai beroperasi secara komersial pada Desember 2003 ini memperoleh rugi usaha sebesar Rp557,189 miliar pada kuartal III/2009 atau menurun dibanding periode yang sama tahun 2008 dengan rugi usaha senilai Rp152,99 miliar.

Pada periode 30 September 2009 dan 2008,perseroan juga mencatat defisit masing-masing sebesar Rp2,311 triliun dan Rp1,078 triliun. Untuk itu perseroan fokus terhadap peningkatan jumlah basis pelanggan agar dapat menghasilkan pendapatan yang memadai untuk menutupi beban usaha. (rakhmat baihaqi/ juni triyanto)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini