Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tren Panel Surya, Masih Kemahalan untuk Indonesia

Nur Januarita Benu , Jurnalis-Kamis, 27 Desember 2012 |11:57 WIB
Tren Panel Surya, Masih Kemahalan untuk Indonesia
Penggunaan panel surya di sebuiah perumahan di Jerman (Foto: Inhabitat)
A
A
A

JAKARTA - Penggunaan solar panel untuk memperoleh energi surya nampaknya bukan lagi hal asing. Sebab kini, semakin banyak negara-negara di dunia yang memulai pemanfaatan energi surya sebagai sumber pembangkit listrik di negaranya.

Setelah bencana di Fukushima, Jepang memilih menutup semua stasiun tenaga nuklir dan Jerman kini mulai mengikuti, setelah muncul tekanan dari publik yang cukup gencar.

Belum lama ini, Jerman mengumumkan telah memasok 22 gigawatt tenaga surya per jam ke dalam jaringan listrik nasionalnya. Ini sekaligus membuat rekor baru dengan memenuhi hampir setengah dari kebutuhan listrik negara itu pada akhir pekan. Demikian seperti dilansir Reuters, Kamis (27/12/2012).

Hal ini juga mulai membuka jalan untuk investasi yang lebih besar dalam proyek-proyek energi surya. Industri Energi Terbarukan (IWR) di Muenster mengumumkan, pembangkit energi surya memasok hampir 50 persen dari kebutuhan listrik pada siang hari dan jumlah ini sama dengan yang dihasilkan oleh 20 stasiun tenaga nuklir pada kualtas penuh.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Arsitek Ridwan Kamil, untuk menggunakan energi surya diperlukan solar panel yang pada umumnya masih diimpor dari negara lain.

"Solar panel saat ini masih mahal di Indonesia, sebab masih diimpor dari luar. Untuk pemakaian di rumah huni pribadi saja diperlukan beberapa meter panel dan itu belum bisa menjadi sumber energi listrik utama di rumah, masih sebatas pendukung," ujar Ridwan.

Sementara di negara-negara luar, solar panel sudah bisa diproduksi sendiri, sehingga harganya lebih murah. Karena itu, menurut Ridwan, jika Indonesia belum bisa membuat pabrik solar panel, maka sebaiknya ada insentif dari pemerintah.

"Misalnya dengan membebaskan pajak impor bagi perusahaan-perusahaan yang ingin produk perumahannya menggunakan panel surya yang dibawa dari luar negeri," jelas dia.

Senada dengan Ridwan, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Ar Her Pratama juga memberikan tanggapan yang tidak jauh berbeda. Kepada Okezone belum lama ini, dia menuturkan, untuk menggunakan solar cell atau panel surya dengan lebih murah di Indonesia, memang sangat diperlukan dukungan pemerintah. Apalagi komponen-komponennya harus dibeli dari negara lain.

"Pasalnya, solar cell skalanya kecil, tidak semua barang elektronik di dalam rumah dapat menggunakannya, hanya untuk beberapa kebutuhan saja. Tidak bisa di-switch secara langsung satu kali dan menggantikan listrik dari PLN," ujar dia.

(Nur Januarita Benu)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement